Bagi Ibu Patmi dan teman-temannya yang menolak pabrik semen memiliki alasan yang sederhana. Bahwa Pegunungan Kendeng adalah sumber kehidupan. Jika sumber tersebut akan dirusak dan dikeruk oleh korporasi, maka wajar mereka akan menolaknya

Setara.net – Mungkin semuanya sudah pada tahu bahwa beberapa hari terakhir ini di media online maupun televisi telah memberitakan aksi tolak pabrik semen di depan istana negara yang dilakukan oleh petani-petani dari Kendeng. Aksi ini tak biasa. Aksi ini berbeda dengan demo-demo pada umumnya. Ya, para penolak pabrik semen ini mengecor kakinya dengan semen. Benar-benar semen.

Aksi cor semen ini adalah simbol dibelenggunya masyarakat jika pabrik semen, PT. Semen Indonesia akan membuat pabrik di Pegunungan Kendeng. Kaki dicor semen ini menunjukkan bahwa jika pabrik semen hadir di Kendeng, maka masyarakat akan kehilangan sumber kehidupannya. Air bersih, lahan pertanian dan lainnya.

Aksi ini adalah kali kedua. Sebelumnya di tahun lalu, para petani Kendeng sudah melakukan cor kaki di depan istana. Dan mereka ditemui oleh beberapa staff khusus presiden. Namun, janji-janji tinggallah janji belaka.

Perjuangan tersebut tidak berhenti sampai di situ, di tahun lalu masyarakat juga telah memenangkan gugatannya di Mahkamah Agung. Bahwa kawasan karst Kendeng adalah kawasan lindung. Namun belum lama ini, tepatnya di penghujung bulan februari 2017, gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo telah menerbitkan izin baru kepada PT Semen Indonesia. Penerbitan izin lingkungan pertambangan dan pembangunan kepada PT Semen Indonesia ini adalah bentuk dari inkonsistensi dari seorang Ganjar Pranowo.

aksi tolak pabrik semen oleh petani kendeng
Mbah Darto petani dari Pati. Ia melakukan aksi cor kaki di depan istana negara bersama petani dari Kendeng

Hal ini membuat para petani dan masyarakat Sekitar Kendeng membuat aksi cor kaki kedua kalinya di depan istana. Dimulai pada tanggal 13 maret, hari senin, petani dari berbagai kabupaten seperti Pati, Blora, Rembang, Kudus dan Grobogan datang ke Jakarta. Pada hari pertama aksi ini dilakukan oleh sepuluh orang. Di hari berikutnya bertambah menjadi 20 orang. Baik ibu-ibu maupun bapak.

Di hari ketiga saya datang ke depan istana untuk bersolidaritas dengan teman-teman petani. Setidaknya saya mengobrol dengan Mbah Darto dari Pati dan juga dengan Pak Komari dari Blora. Mbah Darto bukan baru ini saja menolak pabrik semen di Kendeng. Namun jauh ke belakang, di sekitar tahun 2009-2010 ia sudah menolak kehadiran pabrik semen di kotanya, Pati. Ia menghadang truk-truk semen yang saat itu sedang beroperasi di Pati, saat itu masih bernama PT. Semen Gresik. Dampaknya, mbah Darto masuk bui bersama dengan sembilan orang warga Pati selama sekitar 5 bulan. Dengan dakwaan menghadang truk PT. Semen Gresik.

Di hari ketiga kondisi mbah Darto tetap sehat dan tak gentar melakukan aksi dicor kakinya, “Pegunungan Kendeng adalah sumber air untuk masyarakat sekitar” ungkap Mbah Darto, lelaki yang berusia 59 tahun ini. Dampak yang terjadi jika ada pabrik semen di Kendeng adalah akan kekeringan di sektor pertanian. “Ini Gunung ya, pabrik semen akan di gunung kendeng ya. Jadi gunung kendeng adalah buat sumber kehidupan dari nenek moyang sampai sekarang. Buat cocok tanam, airnya juga untuk menghidupi ternaknya, airnya juga untuk manusianya” kata Mbah Darto.

Jikalau pabrik semen akan didirikan di Kendeng, maka yang terjadi adalah kekeringan. “Apa bisa sawah nanti diari oleh air Aqua” ujar Mbah Darto. Mbah Darto petani dari Pati, disana ia sebagai petani padi. Jika akan didirikan pabrik di Kendeng maka petani seperti Mbah Darto dan lainnya akan hidup darimana?

Pada musim kemarau, persawahan di sekitar Kendeng juga tidak akan takut kekurangan air di sawahnya. Bedahal dengan di wilayah misalkan di kampung saya, Ngawi. Jikalau musim kemarau, areal persawahan di kampung saya musti beli air.

Begitupula yang diungkapkan oleh Bapak Komari, petani asal Blora yang ikut aksi cor kaki di depan istana. Bapak Komari sudah lama sekali menolak kehadiran pabrik semen. Ia hingga lupa berapa lama sudah menolaknya. “sampai lupa mas, dari kapan saya menolaknya” kata Pak Komari yang berusia 50 tahun ini.

Aksi ini terus dilakukan bahkan di hari berikutnya peserta aksi yang mengecor kakinya terus bertambah. Di hari ke lima, Jumat, sejumlah perwakilan petani dari kabupaten di jawa tengah juga hadir untuk mendukung aksi ini. Di hari tersebut juga ada orasi dari mahasiswa, petani, dan juga komunitas Punks n Skin Jakarta. Hadir pula perwakilan dan orasi dari komnas Ham, dan juga Komnas perempuan.

Aksi cor kaki terus dilakukan oleh petani Kendeng. Di hari ke delapan, (senin, 20/3) 4 perwakilan petani kendeng akhirnya dipanggil juga oleh istana. Adalah mas Joko Prianto, kang Gunretno, Yu Sukinah yang menemuinya. Selain mas Joko Prianto, ketiganya ketika masuk ke istana masih dengan kaki yang dicor.

aksi tolak pabrik semen oleh petani kendeng
Gunretno sedang memberikan hasil pertemuannya dengan Teten Masduki

Setelah bagda magrib, mereka kembali dari istana negara. Mereka ditemui oleh kepala staff kepresidenan, Teten Masduki. Namun, hasil yang didapatkan adalah kekecewaan. Aksi di hari ke delapan ini juga aksi hari terakhir dari Ibu Patmi. Ibu Patmi adalah ibu berusia 48 tahun yang ikut kakinya dicor di depan istana. Pada Selasa subuh (21/3) beliau meninggal.

Meninggalnya ibu Patmi adalah potret bahwa pemerintah hingga sekarang masih tak memperdulikan aksi yang dilakukan oleh petani Kendeng. Hal ini membuat aksi-aksi serupa di kota lain di Indonesia bertambah banyak. Jambi, Surabaya, Jogja dan kota-kota lainnya.

Bagi Ibu Patmi dan teman-temannya yang menolak pabrik semen memiliki alasan yang sederhana. Bahwa Pegunungan Kendeng adalah sumber kehidupan. Jika sumber tersebut akan dirusak dan dikeruk oleh korporasi, maka wajar mereka akan menolaknya. Sekeras-kerasnya. Belum lagi dampaknya tidak hanya kepada ibu Patmi dan petani di Kendeng saja, namun meluas. Dampaknya lingkungan yang terjadi adalah kepada anak cucu kita nanti.

Baca juga :

  1. Ibu Patmi
  2. Kendeng Lestari dan Tetap Tolak Pabrik Semen
  3. Aksi Solidaritas Untuk Petani Kendeng

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.
SHARE