Menghitung hari. Kencangkan ikat pinggang karena pengeluaran besar telah menanti di depan. Itulah yang saya lakukan sejak beberapa minggu lalu dalam menyambut tradisi tahunan, yakni lebaran. Tradisi yang menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia, sebuah kegiatan rutin tahunan yang dinanti-nanti, sebuah hari besar untuk disambut bersama keluarga, di pekarangan rumah bersama meriahnya bunyi kembang api bersahut-sahutan dengan takbir.

Hari kebersamaan untuk setiap keluarga, tak terkecuali saya, yang sejak setahun lalu telah menjadi seorang menantu dari orang tua yang tinggal di tanah bagian timur Pulau Jawa.

Sejujurnya, lebaran kali ini bukan lebaran pertama saya di rumah mertua. Karena tahun lalu, saya sudah menghabiskan hari raya di rumah Ibu di Ngawi, Jawa Timur. Untuk persiapan, sebagai menantu yang masih seumur jagung, saya tentu mempersiapkan banyak. Selain menyiapkan perasaan, tentu saya juga perlu menyiapkan perintilan kecil yang semoga bisa membahagiakan Ibu saat temu nanti. Pengen tahu apa aja? Ini selengkapnya!

Saya dan istri

Meski tak banyak, saya ingin memberi sedikit THR

Hari raya memang selalu identik dengan kata THR. Sebuah kata yang familiar bahkan di telinga anak-anak. THR atau tunjangan hari raya, banyak orang yang berharap mendapat THR. Begitupun dengan saya, berharap mendapat THR tapi dari perusahaan tempat saya bekerja. Sedang dari keluarga, justru saya berharap bisa memberi THR, meski sedikit, meski hanya cukup untuk dibelikan bumbu opor atau sayur ketupat.

Bagi saya, THR semata-mata bukan hanya tentang sejumlah uang. Tapi ada rasa syukur, rasa sayang, dan rasa terima kasih yang membentuknya. Syukur karena diberi kesempatan untuk memberi, rasa sayang karena bisa menghabiskan waktu berharga dengan mereka, dan terima kasih untuk setiap waktu, kesempatan, dan rasa sayang. Karena bagi saya, memberi adalah bukan hanya tentang adanya kesempatan tapi adanya kemauan. Kemauan yang merupakan anak dari rasa sayang.

Baju Hari Raya untuk Ibu dan Bapak, Meski tak begitu memahami seleranya

Selain THR, baju lebaran juga merupakan ciri identik dari hari raya. Meski sebetulnya tidak diwajibkan, tapi entah kenapa, membeli baju lebaran sudah menjadi tradisi menyambut hari raya. Bahkan, saking semua masyarakat melakukan tradisi yang sama, mall-mall di hari libur menjelang hari raya selalu dipadati dengan pengunjung. Apalagi saat hari raya semakin dekat, untuk membayarpun antrenya bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam.

Mendekati hari raya, saya bisa mengunjungi pusat perbelanjaan seminggu sekali hanya untuk sekadar menemukan harga diskon. Jika sebelumnya saya hanya berbelanja untuk saya dan orang tua saya di kampung, kali ini double. Meski tak begitu memahami selera mertua, saya ingin memberikan ibu dan bapak baju lebaran. Tak perlu mewah, hanya sebagai simbol kasih sayang, meski hanya berwujud sebuah daster untuk ibu pakai saat memasak ketupat.

Kue-kue khas lebaran

Lebaran memang tak hanya rumah saja yang menjadi ramai, bahkan meja tamu yang semula hanya memajang satu buah vas bunga pun turut ramai. Bedanya meja-meja ruang tamu saat lebaran, dipadati sajian menu lebaran. Kue-kue khas lebaran dari mulai nastar, kue putri salju, kue kacang tanah, kue semprit, hingga kue lidah kucing tertata rapi di meja tamu.

Saya ingin mengambil sedikit peran. Salah satunya membawa oleh-oleh kue khas lebaran untuk dipajang di meja tamu di rumah ibu, menyambut tamu ibu dan bapak. Meski mungkin tak akan banyak, tapi setidaknya saya ingin membawa buah tangan bermanfaat yang bisa dinikmati bersama.

Pangkas budget Tiket Pulang Kampung, agar lebihnya bisa dinikmati bersama

Memberi sedikit THR, baju lebaran, kue-kue khas lebaran, dan satu lagi yang paling penting, tiket pulang kampung. Jadi, berapa banyak budget yang harus saya siapkan? Tentu banyak. Karena pengeluaran lebaran memang selalu di luar budget, saya selalu menyiasatinya dengan memangkas dana yang sekiranya bisa dipangkas. Jika untuk berbagi, kebahagian bersama, seperti memberi, saya tidak ingin memangkas budget tersebut.

Jadi, yang lebih mungkin saya pangkas untuk membeli kebahagiaan di rumah mertua adalah tiket pulang kampung. Agar sisanya bisa saya nikmati bersama di kampung, jadi saya selalu mencari promo tiket kereta api. Salah satu caranya adalah dengan mantengin tiket kereta lebaran di pegi-pegi. Hampir setiap malam sejak 3 bulan sebelum lebaran, saya dan suami jadi pemburu tiket lebaran. Cari harga semurah mungkin, cari potongan harga sebesar-besarnya, itulah prinsip kami.

Ngomong-ngomong tentang kampung di Ngawi, saya baru tahu kalau di sana banyak tempat wisatanya. Dari mulai Benteng Van Den Bosch, air terjun srambang, jamus tea plantation, dan masih banyak lagi. Jika sebelumnya saya banyak berdiam di rumah, di kesempatan berkunjung berikutnya, saya juga ingin mengekplor Ngawi berikut tempat wisatanya.

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.
Robit Mikrojul Huda