Mal saat ini fungsinya sudah bukan hanya untuk berbelanja saja, namun banyak generasi milenial yang berkunjung di tempat ini untuk sarana pemenuhan gaya hidup.

Setara.net – Di era internet seperti sekarang, jika ingin belanja untuk kebutuhan sehari-hari bisa dilakukan tanpa harus keluar rumah. Misalnya saat membeli peralatan anak, pakaian, makanan dan lain sebagainya.

Dengan majunya teknologi, semua hal yang dulu dilakukan dengan menggunakan tenaga ekstra, kini lebih mudah dilakukan hanya dengan beberapa klik saja. Toko-toko online beberapa tahun terakhir ini bermunculan, bahkan sudah menjadi sebuah tandingan toko konvensional (offline). Bukan hanya toko online saja, namun jasa atau layanan rumah tangga sekalipun hadir di ranah online. Hampir semua sektor saat ini menggunakan online.

Bergesernya Masyarakat Saat Berbelanja

Fenomena berbelanja online saat ini sudah menjadi umum di masyarakat Indonesia, khususnya lima tahun belakangan. Pandangan negatif mengenai berbelanja online kini dari hari ke hari sudah luntur. Padahal dulu, bahkan di awal-awal berdirinya Tokopedia (2009) dan Bukalapak (2010), jual-beli online itu banyak perspektifnya ke “penipuan”.

Pertumbuhan belaja online di masyakat Indonesia beberapa tahun terakhir juga naik tajam. Hal ini seperti yang dilansir oleh eMarketer, di tahun 2012 konsumen Indonesia yang melakukan transaksi online hanya sebesar 3,1 juta orang, di tahun berikutnya mencapai 4,6 juta orang, tahun 2014 naik menjadi 5,9 juta orang, tahun 2015 menjadi 7,4 juta orang dan di tahun 2016 kemarin mencapai 8,7 juta orang.

Melihat data di atas menunjukkan bahwa konsumen yang berpindah ke belanja online kian banyak dan hal ini bisa menjadi salah satu penyebab toko konvensional sepi pengunjung.

Toko Konvensional Harus Berinovasi

Mau tidak mau, toko konvensional harus berinovasi agar bisa bertahan di era digital seperti sekarang. Bahkan banyak pula toko offline yang mengubah konsepnya menjadi full online. Banyak pula yang menggabungkan atau mensiasatinya dengan perpaduan antara offline dan online. Konsep apapun, baik online maupun offline akan bisa bertahan jika semuanya memiliki manajemen yang baik.

Bukan jaminan bahwa toko online akan sukses dan offline akan tumbang. Contoh-contoh toko online yang menutup operasinya karena (bisa dikatakan bangkrut) banyak sekali, misalnya ada Rakunten, Sukamart dan lain sebagainya. Namun banyak pula raksasa toko konsvensional yang tumbang di pasar Indonesia seperti 7-ELEVEN yang di akhir Juni 2017 menutup semua gerainya di Indonesia.

Pusat Perbelanjaan dengan Pertumbuhan Pengunjung Tertinggi

Di tengah era digital dan derasnya toko online yang terus bermunculan, nyatanya masih banyak pusat-pusat perbelanjaan yang menggaet konsumen dengan baik. Bahkan ada yang menunjukkan pertumbuhan pengunjung.

Mal dengan Pertumbuhan Pengunjung Tertinggi di Jabodetabek
Mal dengan Pertumbuhan Pengunjung Tertinggi di Jabodetabek

Data yang dikeluarkan oleh BCA sekuritas mencatat bahwa di Jabodetabek, mal dengan konsep modern ternyata pertumbuhan pengunjungnya tinggi. Mal Gandarai City adalah mal dengan pertumbuhan pengunjung tertinggi yaitu di angka 20 persen pada semester pertama 2017 dibandingkan dengan semester pertama tahun sebelumnya. Kemudian Kasablanka (18 persen), Mal Central Park (14 persen), Summarecon Mall Serpong (14 persen), Metropolitan Mal (13 persen), Plaza Indonesia (12 persen).

Hal ini menunjukkan bahwa mal dengan konsep modern memang menjadi pilihan masyarakat dibandingkan dengan mal yang berkonsep lama. Karena mal saat ini fungsinya sudah bukan hanya untuk berbelanja saja, namun banyak generasi milenial yang berkunjung di tempat ini untuk sarana pemenuhan gaya hidup. Seperti nongkrong, menikmati kuliner, berolah raga (fitnes), nonton dan lain sebagainya. Sehingga pengunjung terutama generasi milenial bisa menunjukkan eksistensinya di media sosial.

Mal-mal dengan konsep lama kian hari pengunjungnya terus berkurang. Misalnya ada Metro Pasar Baru di angka 59 persen, Taman Palem Mall (49 persen), Glodok Plaza (34 persen), Mangga Dua Mall (23 persen) dan masih banyak lagi.

Mal yang tak bisa berinovasi dan terus mempertahankan konsep lama, pelan tapi pasti akan ditinggalkan oleh pengunjung. Inovasi dan perubahan konsep adalah beberapa hal yang harus dilakukan agar tidak tutup dengan menyedihkan.

Laporan Khusus:

Robit Mikrojul Huda

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.
Robit Mikrojul Huda

Latest posts by Robit Mikrojul Huda (see all)

SHARE