“Sejarah mengatakan, etnis Cina atau Tionghoa datang ke Indonesia tujuannya adalah berdagang. Hal ini sudah dilakukan jauh hari sebelum Indonesia merdeka”

Setara.net – Indonesia adalah negara dengan berbagai macam suku atau etnis. Tak hanya itu, negara ini memiliki ribuan pulau dan bahasa. Hal ini membuat Indonesia menjadi kaya.

Itu sebabnya Indonesia memiliki semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Semboyan tersebut secara sederhana artinya adalah¬†berbeda-beda tetap satu jua. Nah namun pada prakteknya, perbedaan ini masih menjadi masalah bagi orang Indonesia.

Beberapa orang masih belum bisa menerima perbedaan antar satu sama lain. Ada satu atau suatu kelompok yang belum bisa menerima keberagaman. Lebih dari itu, kebhinekaan belum sepenuhnya jalan di Indonesia.

Sejarah bangsa ini dibangun oleh berbagai etnis atau suku. Tak hanya dimiliki oleh sekelompok saja. Jawa, Sunda, Cina, Arab, Minang, dan sebagainya. Semuanya ikut andil dalam pergerakan atau membangun negara Indonesia.

Namun, lihatlah akhir-akhir ini. Belakangan ini Indonesia agaknya sedang krisis keragaman. Beda sedikit, dilarang. Beda sedikit dihajar dan lain-lain. Sentimen terhadapap etnis sangat mencolok sekali.

Apalagi dengan adanya Pilkada DKI Jakarta saat ini. Yang salah satu calonnya adalah keturunan dari etnis Cina. Sentimen tersebut langsung “dibakar” hanya sebagai kepentingan politik belaka.

Etnis Cina di Indonesia

Menilik data sensus yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010 silam, etnis Cina atau keturunan Tionghoa ternyata menempati 20 besar etnis yang terdapat di Indonesia. Hal ini rupanya etnis Cina yang ada di Indonesia jumlahnya banyak sekali.

Etnis Cina di Indonesia jumlahnya lebih banyak dari suku asal Papua yang hanya 2,7 juta orang. Etnis Cina juga lebih mengungguli suku asal Makassar yang jumlahnya sebesar atau sama dengan Papua sebanyak 2,7 juta.

Jika dihitung secara persentase, ternyata etnis Cina di Indonesia jumlahnya lumayan banyak. Yaitu sebanyak 2,83 juta jiwa atau 1,2 % dari penduduk Indonesia. Survey tersebut dilakukan pada saat sensus penduduk tahun 2010. Dengan jumlah penduduk Indonesia 236,73 juta jiwa.

etnis terbesar di Indonesia
etnis terbesar di Indonesia. Infografis Setara.net

Data tersebut hingga kini belum diperbarui. Namun sepertinya angka itu hingga kini rasanya tak akan beda jauh.

(Kebanyakan) Orang Indonesia memandang etnis Cina

Dengan jumlah yang begitu banyak warga Indonesia yang dari etnis Cina, membuat perekonomian di Indonesia semakin semarak. Mayoritas etnis Cina di Indonesia sebagai pedagang atau pengusaha.

Anda bisa melihat pertokoan di pasar-pasar tradisional di daerah Jawa, sebagian besar dimiliki oleh etnis Cina. Memang, Cina jika bisa dianalogikan memiliki darah berdagang atau bisnis.

Sejarah mengatakan, etnis Cina atau Tionghoa datang ke Indonesia tujuannya adalah berdagang. Hal ini sudah dilakukan jauh hari sebelum Indonesia merdeka.

Lantas bagaimana orang Indonesia kebanyakan melihat etnis Cina atau Tionghoa saat ini? Ternyata hingga kini sentimen atau pandangan negatif kepada Cina masih begitu kuat. Terutama di kalangan masyarakat bawah.

Hal ini terus terjadi dari dulu hingga sekarang. Puncaknya adalah ketika tahun ’98 terjadi kerusuhan, tak hanya di Jakarta saja. Namun hampir rata di seluruh Indonesia. Banyak usaha atau toko orang Cina yang dijarah dan dibakar. Tak cukup sampai disitu, banyak perempuan Cina yang menjadi korban kekerasan seksual.

Seperti dikutip dari situs Tionghoa.info, “Berdasarkan data yang dihimpun dari Tim Gabungan Pencari Fakta 13-15 Mei 1998 yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia pimpinan presiden B.J. Habibie, dipastikan bahwa terdapat 85 perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual yang berlangsung dalam rangkaian kerusuhan Mei 1998. Dengan rincian 52 korban perkosaan, 14 korban perkosaan dengan penganiayaan, 10 korban penyerangan/penganiayaan seksual, dan 9 orang korban pelecehan seksual”. Hal itu terdata yang melaporka saja, masih banyak korban yang tidak berani melaporkan kejadian tersebut. Pahit, pahit sekali. Hal itu terjadi diduga kecemburuan ekonomi.

Lalu, bagaimana ke depannya atau sekarang yang harus dilakukan? Jika melihat akhir-akhir ini yang terjadi di Indonesia, kebhinekaan seakan terlukai. Perbedaan belum bisa diterima oleh sebagian kelompok. Rasanya perlu banyak andil pemerintah untuk menegaskan bahwa betapa pentingnya slogan “Bhineka Tunggal Ika”, bukan hanya untuk dihapal saja, namun yang lebih penting dari itu adalah praktiknya.

Robit Mikrojul Huda

2 COMMENTS

Comments are closed.