“Kring… kring…
Aku tukang pos rajin sekali
Surat kubawa naik sepeda
siapa saja aku layani
tidak kupilih miskin dan kaya
Kring … kring … pos!”

Setara.net – Masih ingatkah anda dengan petikan lagu di atas? Tentunya jika anda generasi 90an atau 2000an awal pasti tahu dengan lagu tersebut. Lagu berjudul “Tukang Pos” tersebut sangat populer ketika saya masih di bangku sekolah dasar.

Belasan tanun berlalu, apakah anak-anak kini tahu dan hapal dengan lagu Tukang Pos? Saya kira jawabannya mudah ditebak. Mayoritas anak-anak di jaman sekarang tidak tahu dengan lagu itu. Mungkin yang tahu dan hapal lagu Tukang Pos hanya sebagian kecil saja.

Tukang Pos Konvensional

Dulu ketika saya masih di bangku sekolah dasar, banyak sekali teman saya yang mendapatkan surat atau wesel dari keluarganya. Saya ingat betul, kebanyakan keluarga teman saya orangtuanya merantau di luar kota. Jadi, ketika sang orangtua mengirim surat atau uang, alamat yang dituju adalah sekolahan.

Tukang Pos, hampir setiap hari selalu mampir di sekolah kami untuk mengantar surat. Tukang pos, bagi sebagian teman saya adalah orang yang bisa dikatakan ditunggu-tunggu. Karena ya, itu tadi, mereka mendapatkan kabar dan bahkan uang dari pak pos.

Teknologi, Menguntungkan juga Merugikan

Kita beralih ke jaman sekarang. Pak pos atau tukang pos rasanya hari-hari ini jumlahnya kian menurun. Ia terpinggirkan atau terganti oleh dengan adanya teknologi. Adalah surat elektronik (e-mail) yang membuat tukang pos lama-lama hilang. Dengan majunya teknologi, sumber daya manusia rasanya semakin hari semakin terganti dan tersingkir.

Surat Elektronik

Surat Elektronik (email) adalah sarana kirim mengirim surat melalui jalur jaringan komputer (misalnya Internet). Dikutip dari wikipedia, “Konsep email pertama kali dikemukakan oleh Ray Tomlinson pada akhir tahun 1971. Ray Tomlinson pada saat itu bekerja untuk Bolt Beranek and Newman “BBN” milik lembaga pertahanan Amerika. Pada awalnya Ray bereksperimen dengan program komputer yang bernama SNDMSG yang pada saat itu digunakan untuk meninggalkan pesan pada komputer, sehingga orang yang memakai komputer dapat membaca pesan yang ditinggalkan oleh pemakai komputer. Saat itu normal ketika banyak orang menggunakan komputer yang sama secara bergantian”

Masuknya Email di Indonesia 

Sejarah email di Indonesia yang pasti tahunnya tidak tentu. Namun, yang jelas email di Indonesia ada berbarengan dengan masuknya internet di Indonesia kisaran tahun 1980an.

Pada masuknya internet dan email, email dari yahoo adalah yang paling banyak digunakan oleh orang Indonesia. Anda tak asing lagi dengan email-email yang belakangnya terdapat [at] yahoo.com ataupun yahoo.co.id. Namun itu semua berubah dan dengan berjalannya waktu, orang Indonesia meninggalkan dan beralih ke email lain. Sebab utamanya adalah kurangnya pembaruan fitur pada layanan yahoo.

Email terpopuler di Indonesia

Di tahun 2016 dan tahun-tahun selanjutnya, pengguna email di Indonesia rasanya sudah pasti akan terus menggunakan email besutan dari google, yaitu gmail.

Saat ini gmail menduduki tempat paling puncak dalam urusan email. Sebanyak 61% email yang ada di Indonesia, mereka menggunakan gmail. Disusul oleh yahoo yang kalah jauh, mereka hanya memiliki pengguna email di Indonesia sebanyak 32% saja.

presentase pengguna email di Indonesia tahun 2016
presentase pengguna email di Indonesia tahun 2016

Hal ini angkanya untuk gmail sendiri akan terus terkerek naik di Indonesia. Pasalnya adalah penetrasi Android yang juga merupakan sistem operasi besutan Google mengambil andil yang besar pula. Setiap pengguna android diharuskan masuk menggunakan akun google, dan membuat naiknya pengguna Gmail.

Dengan sebegitu banyaknya pengguna email, maka sudah barang tentu pak pos semakin kesini sudah tidak ada. Teknologi memang kejam, namun apa daya, jika tidak mengikuti perkembangan teknologi dan kita tidak bisa memanfaatkannya, maka cerita seperti pak pos akan menimpa kepada diri kita.

Seperti lagu anak-anak yang berjudul “Tukang Pos” di awal tulisan ini, lagu tersebut sudah banyak dilupakan dan terganti oleh lagu yang entah apa namanya. Begitupula dengan pelakunya, Pak Pos… riwayatmu kini…

Robit Mikrojul Huda