“Sebagai warga yang cerdas, wajib hukumnya bagi kita untuk terus berhati-hati dengan adanya kampanye hitam. Sebab kampanye hitam bisa berwujud apa saja, dan dimana saja”

Setara.net – Menjelang pemilihan kepala daerah DKI Jakarta mulailah bertebaran kampanye-kampanye hitam di banyak sektor, termasuk internet. Mulai dari meme yang menyerang paslon lawan, video buatan yang menunjukkan kelemahan sampai juga fitnah-fitnah yang berpotensi permusuhan. Semua itu adalah bentuk kampanye hitam yang mengandung kepentingan golongan.

Akibat beredarnya kampanye hitam yang dibuat secara sengaja oleh tim pemenangan paslon banyak warga yang akhirnya keracunan. Yang mula-mula mendukung si A, kini berpindah ke B. Alasannya pun simpel, hanya karena fitnah yang terus digencarkan akhirnya mindset-nya berubah.

Inilah yang seharusnya diwaspadai warga DKI Jakarta agar tidak mudah terpengaruh dengan kampanye hitam. Karenanya perlu adanya langkah kehati-hatian pada diri sendiri jika menyaksikan sebaran fitnah yang sekiranya menohok dan banyak tanda tanya.

Langkah kehati-hatian tersebut yakni dengan mengecek ulang kampanye menohok yang tidak wajar di banyak media, baik itu online, spanduk atau media yang lain. Fungsi pengecekkan ulang itu ialah agar jelas kebenaran informasi yang beredar, apa ini fakta atau fitnah belaka.

Kok bisa ada kampanye hitam?

Logikanya sederhana, di masa-masa awal kampanye seluruh paslon pasti berusaha menutup rapat-rapat kekurangannya dan menunjukkan ke muka masyarakat visi dan misi yang menggiurkan. Namun setelah semua visi misi tersampaikan, maka langkah selanjutnya untuk menggaet pendukung ialah dengan cara menunjukkan kesalahan paslon lain.

Inilah mengapa kampanye hitam selalu digalakkan di akhir kampanye atau menjelang pemilihan. Tujuannya tidak lain adalah merusak citra paslon lain agar warga tidak memilihnya. Sedangkan dirinya sendiri terus diperkuat melalui proses branding berkelanjutan.

Apakah Pemerintah tidak melarang kampanye hitam?

Sejauh ini pememrintah belum memberikan batasan atau standarisasi kampanye hitam seperti apa yang dilarang. Dari sikap pemerintah yang lunak semacam ini akhirnya dimanfaatkan oleh tim pemenangan masing-masing calon untuk menjatuhkan lawan dengan berbagai cara.

Bahkan ada juga yang menyatakan, “Biarlah tangan kami yang kotor demi kemenangan mereka meski sejatinya mereka tidak tahu kalau tangan kami sebenarnya kotor”. Ini jelas-jelas menunjukkan bahwa adanya kampanye hitam bukan melulu dari inisiatif paslon itu sendiri, melainkan dari tim pemenangan paslon.

Jika sudah demikian wajah demokrasi Indonesia akan tercoreng dengan sendirinya, alias wajah demokrasi Indonesia tidak bersih, penuh dengan kecurangan dan penghalalan segala cara demi kemenangan.

Maka dari itu sebagai warga yang cerdas, wajib hukumnya bagi kita untuk terus berhati-hati dengan adanya kampanye hitam. Sebab kampanye hitam bisa berwujud apa saja, dan dimana saja. Melalui sikap kehati-hatian mari kita wujudkan demokrasi yang sehat, adil, transparan dan tidak mengandung provokasi permusuhan.

Tips menghadapi “Kampanye Hitam”

Sebetulnya banyak cara untuk menghidarkan diri dari kampanye hitam. Pertama, kita harus teliti dan cek ulang informasi-informasi yang sekiranya tidak wajar, berlebihan, rancu dan penuh dengan tanda tanya. Melalui pengecekkan ulang tersebut kita akan tahu benar tidaknya informasi tersebut.

Kedua, bila kita menjumpai kampanye hitam yang jelas-jelas fitnah, segeralah melapor ke pihak yang berwajib, baik itu polisi, atau KPU. Tujuan pelaporan ini adalah agar dedengkot kampanye hitam bisa segera diamankan dan tidak meresahkan warga.

Ketiga, langkah terakhir ialah mantabkan pilihan melalui pemahaman visi dan misi paslon. Dengan cara tersebut berarti kita telah menjadi seorang pemilih yang cerdas, yakni memilih bukan karena uang atau sogokkan, melainkan karena hati nurani.

Laporan Khusus :

  1. Perlunya Kesadaran Warga Akan Pilkada
  2. Hati-hati Dengan Kampanye Hitam
Latest posts by Mas Halfi (see all)