CB Insight, konsultan analisis data yang berbasis New York, menyebutkan Grab mendapat investasi sebesar US$ 690 juta

setara.net – Tak diragukan lagi, perkembangan dan kemajuan teknologi di dunia sangat cepat sekali. Perusahaan-perusahaan besar dituntut untuk terus berinovasi agar produk ataupun usahanya terus bertengger di dunia. Pun dengan karyawan-karyawan harus terus mengupdate pengetahuannya agar tidak didepak dari perusahaan.

Belakangan ini, dunia startup (perusahaan rintisan) terus bermunculan. Banyak sekali anak-anak muda yang memilih mendirikan startup daripada menjadi karyawan di perusahaan besar. Tak hanya itu, generasi milenial juga lebih suka bekerja di startup daripada perusahaan besar yang sudah memiliki nama mentereng di dunia. Survey tersebut dilakukan oleh Jobplanet Indonesia, bisa dilihat disini.

Oleh karena itu, di Indonesia startup terus bermunculan. Pendanaan terus dikucurkan untuk mengembangkan startup oleh pemilik modal. Pemilik modal (venture capital) ini biasanya adalah perusahaan yang telah sukses mendanai startup di dunia. Misalnya ada Rocket Internet, Google Ventures dan lainnya.

Tahun 2016, startup yang ada di Indonesia banyak sekali yang mendapatkan kucuran dana secara besar. Hal ini malah terbesar di Asia Tenggara.

Go-Jek telah mendapatkan kucuran dana segar dari DST Global, Formation Group, dan KKR sebesar US$ 550 juta. Dan itu membuat Go-Jek, besutan Nadiem Makarim ini terus mengembangkan jasanya, saat ini Go-Jek telah memiliki layanan sebanyak 14 jenis. Yang paling mutakhir jasa yang disediakan oleh Go-Jek adalah Go-Auto, Go-Med dan Go-Busway.

Namun, dengan dana sebesar itu, apakah Go-Jek paling banyak mendapatkan kucuran dana segar dari venture capital?

Jawabannya adalah tidak. Seperti dikutip dari Katadata Indonesia, “CB Insight, konsultan analisis data yang berbasis New York, menyebutkan Grab mendapat investasi sebesar US$ 690 juta. Kucuran dana yang berasal dari Vertex Venture Holdings, GGV Capital, Qunar, dan 500 Accelerator”

Hal ini tak lepas karena kepopuleran Grab di Asia Tenggara, juga di Indonesia. Grab Indonesia memang masih kalah jauh dibandingkan dengan Go-Jek dalam hal jenis jumlah pelayanan. Di Indonesia, Grab menyediakan 7 layanan. Setengahnya dibandingkan dengan Go-Jek.

Tahun ini, dunia startup diperkirakan akan terus menjadi berita di setiap harinya. Pendanaan-pendanaan terus dikucurkan di berbagai penjuru dunia. Startup baru terus bermunculan.

Pendanaan Startup di Asia Tenggara, 2016
Pendanaan Startup di Asia Tenggara, 2016. Infografis : setara.net

Lebih dari itu, banyak sekali startup yang tumbang. Tak jauh-jauh, di Indonesia sendiri sudah banyak yang sudah tak beroperasi dikarenakan gulung tikar. Tahun kemarin, sebut saja Foodpanda, Blu-Jek, Openrice, Diana dan Rakunten sudah tidak beroperasi lagi.

Hal ini menjadi tantangan besar bagi yang ingin mendirikan startup. Begitupula bagi para CEO maupun founder startup. Jika hanya melihat gurihnya kucuran dana saja, dan tidak terus berinovasi maka kegagalan dan tumbang adalah hal yang wajar. Karena di dunia digital, berbeda dengan perusahaan konvesional. Cara pandang dan strateginya juga berbeda.

Namun, yang paling utama dari startup itu adalah memudahkan penggunanya. Jika pokok utama itu tidak disediakan, jangan harap ingin membuat startup dan menjadi besar.

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.
Robit Mikrojul Huda