“Ibu mau ke Wartel dulu ya, kamu jaga rumah. Mau telepon kakak sebentar”

“Iya bu” 

“Awas, jangan main. Di rumah aja”

Setara.net – Apasih yang terlintas dalam pikiranmu soal Warung Telekomunikasi (Wartel)? Bagi saya sendiri yang generasi milenial, Wartel tidak terlalu menjadi ingatan yang terlalu dalam. Bahkan di era jaya-jayanya Wartel, saya hanya beberapa kali menggunakan layanan ini.

Namun berbeda dengan generasi 80an atau orangtua saya, mereka kemungkinan besar memiliki kenangan yang banyak soal Wartel. Percakapan di awal tulisan tersebut adalah percakapan saya dengan ibu saya.

Di tahun 2000-an awal, ibu saya sering menggunakan layanan telepon di Wartel. Untuk memasang telepon rumah, di keluarga kami belum sanggup. Bukan masalah itu saja, namun di desa kami, juga jarang sekali yang memasang telepon rumah. Maka alternatifnya jika ingin telepon ya pergi ke Wartel.

Menggunakan Wartel bagi ibu sudah menjadi langganan sendiri, kalau tidak silap, mungkin seminggu bisa dua kali pergi ke Wartel. Sebabnya dulu kakak pertama saya bekerja di luar kota, satu-satunya komunikasi yang kami lakukan adalah via Wartel.

Era Jaya Wartel

Saya tidak terlalu paham soal sejarah Wartel di Indonesia dan seluk beluknya. Pada medio 2000an, Wartel menjadi primadona masyarakat. Di kampung saya, banyak yang membuka usaha Wartel, bahkan Kamar Bicara Umum (KBU) lebih dari dua setiap gerainya.

Pada tahun itu, usaha tersebut menjadi salah satu usaha yang menjamur dan sepertinya bisa sejahtera. Karena kebutuhan akan komunikasi telepon terus diminati masyarakat dan pilihan yang murah adalah Wartel. Maka tak heran, usaha ini pada tahun 2000an awal menjadi peluang yang gurih.

Wartel Digeser oleh Telepon Seluler

Ladang usaha Wartel kian lama kian makmur, namun usaha ini tidak membutuhkan waktu lama untuk ditumbangkan. Datanglah era ponsel yang seakan menjadi ancaman bagi usaha Wartel. Pelan tapi pasti, ponsel berhasil menguasai pasar Wartel.

Pada era itu, merk ponsel yang berjasa menggeser Wartel adalah Nokia, Sony Erricson dan lain sebagainya. Dengan gampangnya membeli handphone dan tarif teleponnya lebih murah serta banyaknya gerai telepon seluler mmebuat Wartel semakin berdarah-darah.

Era itu Nokia menguasai pasar handphone Indonesia. Dengan bermodalkan handphone Nokia, serta pulsa. Kita bisa berkomunikasi dengan keluarga, teman, atau pasangan. Hal ini membuat usaha Wartel tersingkir dan satu demi satu tutup.

Jumlah Wartel di Indonesia
Jumlah Wartel di Indonesia

Wartel tak beroperasi di Indonesia

Dengan hadirnya ponsel murah serta mudah mendapatkannya, membuat Wartel tak bisa berbuat apa-apa. Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), pada 2015 tercatat sudah tidak ada lagi sambungan warung telekomunikasi (Wartel) di seluruh wilayah Indonesia. Jumlah ini memang mengalami tren yang menurun sejak 2010. Bahkan, penurunan secara signifikan terjadi pada 2014, jumlah sambungan wartel menjadi 836 dari sebelumnya mencapai 227.555 sambungan.

Sangat sedih dan menjadi kenangan yang indah. Komunikasi dengan keluarga dimudahkan dengan Wartel, banyak pula remaja di jaman itu mendapatkan gebetannya lewat Wartel. Kenangan-kenangan tersebut telah digantikan oleh ponsel. Terlebih lagi teknologi yang semakin berkembang membuat ponsel terus berinovasi. Dengan adanya ponsel pintar, kini fungsinya tak lagi untuk telepon dan kirim pesan saja, namun lebih dari itu.

Baca juga:

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.
SHARE