Setara.net – Musik memiliki pasarnya masing-masing. Misal, kamu suka pop yang menye-menye, dan menurutmu itu easy listening dan bisa membuat tenang pikiran. Kemudian jika kamu menyuruh saya untuk mendengarkan, katakanlah, pop, apakah saya akan suka dengan musik tersebut? Tentu jawabannya bisa ya dan bisa tidak.

Musik memiliki ceruknya sendiri dan kadang memang sentimentil. Saya muak dengan lagu-lagu pop yang saban hari diputar di televisi nasional setiap pagi. Pun, misalnya kamu juga tak suka dengan musik metal yang teriak bak orang kesurupan. Lalu ada jenis musik punk, jazz, blues, keroncong dan lain-lain. Dan semuanya memiliki khasnya masing-masing. Pada intinya, setiap individu memiliki selera dan keyakinannya masing-masing mengenai musik. Tak bisa dipaksa.

Kita tidak akan membahas musik secara umum, namun lebih kepada jenis musik yang banyak dipandang negatif oleh masyarakat. Musik itu adalah punk. Secara garis besar, masyarakat kita memandang punk itu tak ubahnya seorang manusia yang tak berguna.

“Punk itu dekil, kriminil, dan bikin takut orang”

Dan pandangan-pandangan lain yang lebih condong ke arah negatif. Sebenarnya, punk bisa dipandang sebelah mata itu karena apa? apakah dari penampilan yang “berbeda” dari orang kebanyakan?

Mari kita pelajari satu persatu. Biar ke depannya, orang awam yang bertemu dengan anak punk tak akan takut lagi dan mindsetnya semoga bisa berubah.

Sejarah Punk

Punk merupakan subkultur yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir pada awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. – Wikipedia

Gaya Pakaian Punk

Anak Punk begitu mudah dikenali. Mereka biasanya bergerombol. Dengan penampilan yang berbeda dari orang kebanyakan. Celana jeans ketat, sepatu boots, jaket kulit, rambut yang dicat dengan warna mencolok dengan potongan rambut mohawk. Begitulah sedikit gambaran berpakaiannya anak punk. Perlu digaris bawahi juga, tak semua anak punk bergaya seperti itu. Terlebih penting lagi adalah, yang disebutkan tadi hanya pada aksesoris belaka. Hal ini membuat banyak orang yang bisa dikatakan “jaga jarak” dengan anak punk.

Perspektif masyarakat terhadap Punk

Mayoritas masyarakat di Indonesia memandang punk masih negatif hingga sekarang. Bahkan dianggap sebagai seorang kriminil. Hal ini karena anak punk yang diketahui adalah yang banyak berada di jalan, mencari uang dari ngamen dan lainnya. Alih-alih dari tahun ke tahun pandangan negatif itu luntur, justru malah sebaliknya.

Padahal, Punk bukan seperti itu…

Para pelaku punk, dan yang hidupnya dengan ideologi punk sebenarnya bukan seperti itu. Seorang punk memiliki ideologi Anarchy. Pada tahap ini, punk memang hidupnya berbeda dengan orang lain. Bukan berarti melenceng. Tapi ia memiliki keyakinan tersendiri. Ia tak mau dikekang, pun sebaliknya. Ia tak mau menjajah, pun sebaliknya. Dan hal-hal lainnya, yang pada intinya menjadi individu merdeka. Bebas merdeka.

Anarchy [Anarchism]

Punk memiliki ideologi Anarkis. Anarkis itu bukan seperti yang kamu ketahui saat ini. Sebagai contoh ; di media massa, setiap terjadi demo rusuh maka media akan menyebut perilaku itu sebagai anarkis. Perkelahian yang dilakukan dengan melibatkan banyak orang akan disebut anarkis. Pokoknya yang rusuh-rusuh adalah anarkis. Kawan, padahal arti sesungguhnya anarki bukan itu.

Anarkisme adalah sebuah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, dengan asumsi bahwa negara adalah sebuah bentuk kediktatoran legal yang harus diakhiri.

Punk ada bukan sekadar main musik

Punk lahir karena banyak terjadi penindasan di sekitar. Punk lahir karena hadirnya negara yang semena-mena terhadap warganya. Punk ada karena ketidak adilan. Punk adalah sebuah gerakan perlawanan. Maka, band-band yang mengusung punk tak akan membuat lagu dengan tema melankolis, romantis, apalagi percintaan yang sendu.

Lagu punk tak akan membahas hal demikian. Namun, lagu-lagu punk syarat akan kritik. Masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, sosial, budaya dan lain sebagainya.

Punk bicara tentanng kebersamaan
Yang membuat kita bersatu dan kuat
Punk bicara tentang kebebasan
Kontrol diri tanpa norma yang menjerat

Generasi punk yang merah membara
Mengharap dukungan kita semua
Kebersamaan yang kita jalankan
Kan membuat mengerti semua

Punk bicara tentang kebersamaan
Punk bicara tentang kebebasan

Lirik lagu di atas adalah lagu dari Bunga Hitam. Sebuah band punk asal Jakarta. Lagu-lagu yang dibawakan mereka misalnya bercerita tentang kemiskinan, kesetaraan, pendidikan, negara dan lainnya.

Do It Yourself (D.I.Y)

Selain punk memiliki ideologi anarkis. Punk juga memiliki semangat DIY dan kolektif. Alih-alih merengek dan memohon kepada records label mainstream ketika ingin rilis single maupun album. Ia akan merekam, mendistribusikan dengan atau oleh komunitas. Semua proses akan dilakukan secara mandiri. Begitupula mayoritas yang  hidup dengan “membawa punk” maka ia hidup dari kemandiriannya. Misalnya dengan membuat sablon kaos, emblem, dan karya-karya lainnya.

Terakhir

Pada hakikatnya, punk bukanlah sekadar fashion. Menggunakan atribut punk belum tentu punk. Karena punk itu lebih kepada ideologi. Punk bukanlah aksesoris yang dipakai. Dan terakhir untuk para pelaku punk, tunjukkan bahwa punk itu bukanlah seperti yang dipandang masyarakat saat ini.

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.
SHARE