Banyaknya toko online membuat konsumen harus lebih berhati-hati saat bertransaksi online. Amati toko online tersebut dengan seksama, tanya ke teman, atau dengan cara banyakin referensi mengenai riwayatnya di internet.

Seatara.net – Hingga tahun 2016, Lebih dari sepertiga populasi Indonesia (88,1 juta jiwa) sudah mengenal internet. Jumlah penduduk di Indonesia sebanyak 252 juta jiwa. Dengan jumlah yang begitu besar, Indonesia menjadi lahan yang empuk untuk menjual jasa atau barang lewat internet. Perusahaan E-commerce lokal maupun dunia berperang untuk mendapatkan tempat yang terbaik di Indonesia.

Siapa yang tak kenal dengan Zalora, Lazada, Tokopedia, Bukalapak, OLX, Elevenia, Blibli, MatahariMall dan lainnya. Raksasa toko online ini terus gencar setiap harinya dalam membuat kampanye promosi. Perang harga dan promo besar-besaran terus dilakukan. Dalam dunia startup kita mengenal dengan sebutan “membakar uang”.

Raksasa toko online di Indonesia terus membakar uang demi kepuasan pelanggan dan menjadi toko pilihan atau favorit di masyarakat. Tak main-main mereka dalam memberikan promo kepada pelanggannya. Hal ini membuat beberapa toko online di Indonesia hingga sekarang belum mendapatkan keuntungan.

Frekuensi transaksi online

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun lalu mengatakan bahwa frekuensi pengguna internet di Indonesia saat berbelanja online setidaknya 34,8 persen setiap satu bulan sekali. Kemudian 14,2 persen di bawah satu bulan sekali. Lalu 4,7 persen di bawah seminggu sekali dan sebanyak 3,8 persen pengguna internet di Indonesia melakukan transaksi online lebih dari satu kali dalam seminggu. Artinya, pengguna internet di Indonesia dalam berbelanja atau bertransaksi online sangat aktif. Untuk metode pembayaran yang kerap dilakukan saat transaksi online mencapai 36,7 persen melalui ATM. Kemudian banyak juga yang melakukan pembayaran di tempat atau COD (Cash On Delivery) sebanyak 14,2 persen. Setelah itu barulah melalui pembayaran kartu kredit, sms banking dan e-money.

Mengapa COD masih menjadi pilihan?

Sialnya, stigma negatif dalam belanja online hingga sekarang masih dirasakan oleh masyarakat kita. Walaupun pandangan negatif tersebut tidak seburuk beberapa waktu tahun lalu, namun pandangan ini masih berlaku hingga sekarang. Ketakutan akan barangnya tidak sesuai saat diterima, ditipu oleh penjual dan alasan-alasan lainnya yang membuat metode COD masih banyak dilakukan oleh pengguna internet di Indonesia.

perilaku pengguna internet di Indonesia
perilaku pengguna internet di Indonesia oleh APJII

Toko online terpopuler di Indonesia

Banyaknya toko online membuat konsumen harus lebih berhati-hati saat bertransaksi online. Amati toko online tersebut dengan seksama, tanya ke teman, atau dengan cara banyakin referensi mengenai riwayatnya di internet. Menurut survey yang dilakukan oleh W&S Market Research tahun 2016, Lazada adalah toko online yang paling populer di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini menunjukkan persentase sebanyak 43,8 persen. Kemudian barulah disusul oleh marketplace asal Indonesia besutan William Tanuwijaya, Tokopedia yang jauh tertinggal di angka 15,8 persen. Lalu ada toko jual beli OLX yang memiliki kepopuleran sebesar 8,2 persen. Kemudian saingan Tokopedia, Bukalapak dan Elevenia yang hanya memperoleh kepopuleran mencapai 5 persen saja. Kemudian dibuntuti oleh Zalora sebesar 4 persen, dan Blibli 3 persen.

Menagapa Lazada menjadi toko online terpopuler? Salah satu penyebabnya adalah jenis produk yang dijual di Lazada bervariasi, dan terus bertambah setiap waktu. Hingga kini hampir ada 5 juta jenis produk yang dijual Lazada untuk memenuhi permintaan konsumen.

Tingkat Kepopuleran Toko Online di Indonesia pada tahun 2016
Tingkat Kepopuleran Toko Online di Indonesia pada tahun 2016 | Setara.net

Mengapa tidak Tokopedia atau Bukalapak yang paling populer?

Bukankah kita sering melihat 2 raksasa marketplace tersebut muncul di iklan televisi nasional. Memang benar, keduanya sering muncul. Bahkan, beberapa waktu lalu iklan Bukalapak saat memperingati imlek tahun 2017 ini iklannya terus diputar berkali-kali. Bahkan, anak-anakpun sampai hapal dengan lirik lagu pada iklan tersebut. Iklan yang berjudul “Nego Cincai” ini menjadi pendongkrak branding yang kuat bagi Bukalapak. Sepertinya di tahun depan, kepopuleran toko online di Indonesia akan bergeser. Mari kita tunggu bersama.

Laporan Khusus:

 

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.

Latest posts by Robit Mikrojul Huda (see all)

SHARE