Kini, berbelanja online tidak dipandang buruk seperti  beberapa tahun lalu. Belanja online sudah memiliki kepercayaan yang lumayan bagus. Pandangan negatif akan tertipu, dan barang tidak sesuai lama kelamaan sudah tergerus.

Seatara.net – Di Indonesia pengguna internet pada tahun 2016 sebanyak 88,1 juta orang. Artinya, sepertiga populasi di Indonesia telah mengenal internet. Angka ini dipaparkan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Alasan terbesar orang Indonesia mengakses internet untuk mengupdate informasi atau berita.

Dalam survey APJII dikatakan, bahwa usia paling banyak yang menggunakan internet di Indonesia adalah antara usia 35 hingga 44 tahun, yaitu sebanyak 38,7 juta orang atau sekitar 29,2 persen. Namun secara keseluruhan, pengguna internet di Indonesia adalah di usia 18 hingga 45 tahun yang paling banyak. Tentunya angka ini terus bergerser karena, saat ini banyak pelajar di usia SMP dan SMA yang malah lebih aktif menggunakan internet.

Komposisi Pengguna Internet berdasarkan pekerjaan

Masih dari hasil APJII, komposisi pengguna internet di Indonesia ini sudah bisa kita tebak terlebih dahulu. Bahwa yang mendominasi penggunaan internet di Indonesia adalah mereka yang saat ini sebagai karyawan atau wiraswasta. Angka ini mencapai 62 persen atau sebanyak 82,2 juta orang. Kemudian posisi ke dua diisi oleh Ibu Rumah Tangga. IRT menyumbang 16,6 persen, atau sebanyak 22 juta. Barulah di tingkat mahasiswa sebanyak 10,3 juta (7,8 ersen). Lalu ada tingkat pelajar sebanyak 6,3 persen setara 8,3 juta jiwa.

Melihat angka tersebut, menarik untuk disimak mengapa di Indonesia belakangan ini terus berlomba untuk membuat Startup. Ya, banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia yang berbasis digital terus berkembang pesat beberapa tahun terakhir.

Startup berbasis online di Indonesia banyak bermunculan dan juga banyak yang tumbang. Nama-nama yang sudah moncer dalam dunia startup di Indonesia ada Gojek, traveloka, tiket.com, Bukalapak, Tokopedia dan masih banyak jumlahnya.

Peluang Ecommerce

Raksasa ecommerce di Asia dan juga dunia berebut untuk menjadi penguasa di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, misalkan Lazada dan Zalora terus gencar berjualan. Ceruk pasar di Indonesia sangat menggiurkan. Dengan pengguna internet yang begitu besar, maka para ecommerce di dunia tak akan salah jika memilih Indonesia untuk berjualan. Namun, juga tak tinggal diam bagi para pelaku ecommerce di Indonesia. Kemudian muncullah startup lokal yang terus berkembang dan menjadi raksasa marketplace di Indonesia. Ada Bukalapak dan juga Tokpedia. Keduanya terus bersaing hingga sekarang. Mereka terus membakar uang untuk mendapatkan konsumen sebanyak-banyaknya. Bahkan mengeluarkan biaya iklan di televisi hingga miliaran rupiah.

Preferensi Belanja Online di Indonesia
Preferensi Belanja Online di Indonesia dan pengguna internet berdasarkan pekerjaan | Setara.net

Bagaimana dengan perilaku belanja masyarakat di Indonesia?

Jika kita menengok 10 tahun lalu bisa dikatakan bahwa masyarakat di Indonesia ketika berbelanja dalam hal apapun hampir semuanya melalui offline atau konvensional. Namun jika kita lihat keadaan sekarang, banyak sekali orang yang beralih belanja ke online. Mudahnya berbelanja online membuat konsumen di Indonesia ketagihan untuk berbelanja. Menariknya dalam rilis Pricewaterhouse Cooper (PwC), dalam hal belanja Buku, Film, Musik dan Video Games, orang Indonesia lebih memilih beli lewat online dibandingkan dengan offline. Persentase dalam membeli online sebanyak 59 persen. Jadi, jika Anda ingin berjualan online, hal yang paling mudah Anda jual adalah 4 item tersebut. Kemudian jenis pakaian juga mendominasi dalam penjualan online. Di Indonesia, masyarakat kita dalam membeli pakaian juga lebih memilih ke online sebanyak 53 persen.

Yang menarik lagi adalah konsumen di Indonesia dalam membeli perhiasan dan jam tangan tak ada yang beda antara online dan offline. Artinya, misalkan ada 10 konsumen dalam membeli perhiasan / jam tangan, maka 5 diantaranya akan membeli lewat online maupun offline.

Alasan lebih memilih berbelanja online dibandingkan dengan offline

Mengapa banyak konsumen di Indonesia yang banyak beralih ke online? Tentu jawabannya simpel. Ketika kita berbelanja di toko biasa (offline), maka kita harus menghabiskan waktu dan uang yang ekstra dibandingkan berbelanja online. Kedua, harga di toko online kadang lebih murah dibandingkan dengan offline. Kemudian, mudahnya mencari barang apa yang kita mau. Dan alasan-alasan lain.

Dalam berbelanja online memang benar masyarakat kita hanya terpatok pada jenis barang tertentu saja. Seperti Buku, Film, Pakaian, Keehatan / Kecantikan, Mainan, Perhiasan atau jam tangan. Misalnya seperti Zainal Mutakin, karyawan di Jakarta ini lebih memilih pakaian saat belanja online “selama ini paling sering pakaian” ungkap Zainal. “Biasanya dalam sebulan sekali sampai dua kali” lanjutnya.

Zainal lebih memilih belanja pakian lewat online menurutnya karena tidak ribet. Dan alasannya tidak membeli lewat offline karena ribet dan juga harga lebih mahal. “ribet gan, harus keluar kost. Dan mahal-mahal juga. Harus milih sana-sini, tapi ujungnya tidak sesuai” keluhnya ketika ia berbelanja via offline. “Kemarin udah coba ke Ramayana, tapi malah gak ada yang cocok, dan dari segi harga juga lebih mahal” tambah Zainal.

Memang, kadang barang-barang di online lebih murah ketimbang yang dijual di toko biasa. Namun, ketika kita berbelanja online kita juga harus selektif dalam memilih barang tersebut, Jika tidak, kita akan kecewa. Karena penampakan yang sesungguhnya bisa berbeda.

Tips menyikapi berbelanja online

Banyak sekali bukan di media sosial yang mengeluhkan barang yang ia beli ternyata beda dengan yang dilihat di toko online. Ada lagi banyak keluhan mengenai penipuan dalam berbelanja online. Dan keluhan lainnya. Pada intinya, semua sama memiliki resikonya masing-masing antara lewat online maupun offline. Tips yang paling sederhana yang harus dilakukan saat belanja online ya Anda harus tahu toko online tersebut. Pada intinya, banyakin referensi sebelum membeli di toko tersebut. Tentunya sekarang kita dimudahkan dengan banyaknya marketplace yang ada di sini. Sebelum ada marketplace seperti Bukalapak maupun Tokopedia, ketika kita belanja online di toko yang belum terkenal maka kita bisa menggunakan jasa Rekening Bersama (Rekber).

Kini, berbelanja online tidak dipandang buruk seperti beberapa tahun lalu. Belanja online sudah memiliki kepercayaan yang lumayan bagus. Pandangan negatif akan tertipu, dan barang tidak sesuai lama kelamaan sudah tergerus.

Laporan Khusus:

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.
SHARE