Radio di Indonesia masih jaya di udara, walaupun terus digempur oleh internet dan televisi.

Setara.net – Bagaimana sih nasib radio di era digital seperti sekarang? Sebelum kita membahas lebih jauh dan nasibnya seperti apa, mari kita lihat sekilas sejarah dari masa ke masa. Mungkin tak akan lengkap, namun setidaknya bisa sedikit menambah wawasan kalian.

Sejarah Radio di Indonesia

Tentu jika kita berbicara radio, pastinya tak lepas dari yang namanya Radio Republik Indonesia (RRI). RRI adalah radio pertama di Indonesia, ia adalah tonggak sejarah. Sebelum ada RRI, sebenarnya radio di Indonesia sudah ada, bahkan sejak jaman Belanda masih menjajah negeri ini. Siaran radio pertama di bumi nusantara pada bulan juni 1925, saat itu bernama Bataviase Radio Vereniging (BRV).

Radio Republik Indonesia diresmikan beberapa hari setelah kemerdekaan Indonesia, yaitu pada 11 September 1945. Saat itu radio menjadi alat penyampai kepada rakyat Indonesia di masa awal berdirinya negeri ini. RRI sangat penting bagi Indonesia.

Kejayaan Radio

Masa kejayaan radio di Indonesia adalah pada era ’80 hingga ’90an. Pada jaman itu televisi belum menyebar luas di negeri ini. Belum lagi, harga televisi yang mahal kala itu membuat televisi menjadi barang mewah. Jika menilik di kampung-kampung, pemilik televisi adalah orang-orang kaya saja. Untuk alternatif hiburan, radio menjadi media yang tepat bagi masyarakat kita. Di tahun-tahun itu kejayaan atau era keemasan radio terjadi. Sebelum digeser oleh televisi dan sekarang internet.

Saling berkirim salam lewat radio

Di era 2000-an awal, sebenarnya radio masih memiliki pamor. Namun tak seperti tahun 80 hingga 90an. Awal era milenium, radio menjadi ajang “kirim salam” para remaja saat itu. Apalagi radio kecil di daerah-daerah. Karena frekuensi radionya yang terbatas, membuat radio ini menjadi asyik. Jaman saya SD hingga SMP, banyak teman-teman sebaya saya yang melakukan ajang kirim salam lewat radio. Waktu itu, belum lewat pesan pendek (SMS), namun lewat secarik kertas (kertas atensi). Kalau tidak salah selembar kertasnya seharga 500 perak.

Dengan selembar kertas, kamu dapat menulis pesan berupa apapun, kepada teman, sahabat, pacar, gebetan bahkan selingkuhan sekalipun. Jika mengirim pesan kepada pacar atau selingkuhan, pastinya memakai inisial atau nama samaran. Saling melempar pesan ini adalah salah satu cara “kode-kodean” remaja kala itu.

“Yaps. Aku inget tuh dulu ada dua stasiun radio di deket rumah” kata Renny Wagia. “Nah karena dekat dulu kirim salam juga bisa lewat selembar kertas atensi. Judulnya kita tulis disitu kalau mau berkirim pesan” Lanjut Renny Wagia, seorang karyawan televisi di kota Blitar ini.

Menurutnya kertas atensi itu dijual perlembarnya seharga 500 sampai 1000 rupiah. “Ada yang dijual-belikan 500-1000” ungkap Renny pemilik blog thewagia.id.

Renny berkirim salamnya tidak ke pacar ataupun gebetan, karena saat itu ia masih sekolah dasar (SD). Ia hanya mengirimkan pesan hanya kepada teman-teman sekelasnya saja. Saling berkirim salam lewat radio ini adalah kesenangan kala itu. Jika kertas atensi kita dibacakan oleh penyiar radio, rasanya bangga sekali. “Duh senengnya kalau sampai dibacakan” pungkasnya sambil terkekeh.

Radio Saat ini

Menurut survey yang dilakukan oleh perusahaan Nielsen Indonesia, radio masih memiliki pendengar yang lumayan besar di Indonesia. Radio memiliki posisi yang masih dipilih oleh masyarakat Indonesia untuk mendapatkan informasi atau mendengarkan musik (sarana hiburan). Penelitian yang dilakukan oleh Nilsen tersebut menunjukkan bahwa penetrasi pendengar radio di Indonesia mencapai 38 persen atau sekitar 20 juta orang. Ia mengalahkan koran serta majalah ataupun tabloid yang hanya 8 dan 4 persen saja. Radio hanya kalah saing dengan internet, yaitu sebsesar 40 persen, media luar ruangan 52 persen dan televisi yang mencapai 96 persen.

Rata-rata masyarakat di perkotaan dalam sepekan mendengarkan radio selama 139 menit, atau sekitar 20 menit perharinya. Penelitian ini mencakup di 11 kota besar di Indonesia. Radio masih mendapatkan posisi yang baik-baik saja di era internet yang serba cepat perkembangannya.

Penetrasi Media di Indonesia 2016
Penetrasi Media di Indonesia 2016 | Setara.net

Bagaimana nasibnya ke depan?

Melihat penelitian tersebut, bisa dikatakan radio akan terus bertahan di Indonesia. Walaupun gempuran internet yang semakin keras. Belum lagi banyaknya televisi yang memberikan tontonan dan hiburan. Dengan banyaknya radio yang bisa diakses melalui online, membuat radio masih diminati banyak orang. Belum lagi di kota-kota besar seperti Jakarta dan lainnya. Radio masih memiliki pamor yang tinggi. Banyak pengendara mobil pribadi yang hampir pasti mendengarkan radio saat berkendara membelah kemacetan kota Jakarta. Pastinya radio sudah jarang untuk ajang kirim salam. Walaupun masih dilakukan oleh sebagian orang. Tentu medianya untuk salam atau kirim pesan saat ini mudah sekali, hanya memention ke akun media sosial radio tersebut sudah bisa. Ataupun dengan langsung menelpon. Namun pada akhirnya, Radio di Indonesia masih jaya di udara, walaupun terus digempur oleh internet dan televisi.

Baca juga:

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.
SHARE