Setara.net – “Piiimmmm, pimmmmm, piimmmm!!! Woe, merah tuh merah! Lampu merah, masih aja ditrabas, tol*l lo!!”

Pemandangan atau umpatan kata-kata kasar di atas adalah pemandangan yang umum di jalanan Jakarta. Klakson-klakson bak suara rentetan parade kampanye pilkada saja. Umpatan dan kata kasar sering terdengar di perempatan jalan. Tak ada henti-hentinya suara klakson di perempatan maupun setiap lampu merah. Jalanan Jakarta adalah tempat yang paling ganas diantara jalanan yang lainnya. Salip-menyalip antar pengguna jalan, entah dari kanan maupun kiri. Tak memeperdulikan pengendara lain.

Jika tidak hati-hati, mengendarai kendaraan pribadi di Jakarta rasanya seperti nyawa kita jaraknya hanya sejengkal dari kematian. Bukannya saya menakuti dan lebay, akan tetapi hal ini memang kenyataan.

Dari data Polda Metro Jaya menunjukkan, angka kecelakaan lalu lintas di Jakarta angkanya terus naik dari tahun ke tahun. Tak hanya kematian, namun pada luka ringan maupun luka berat jumlahnya tak mau kalah. Ia terus naik setiap tahunnya.

Dikutip dari BeritaJakarta, “Sejak 1 Januari hingga 10 Agustus 2016, angka kecelakaan lalu lintas di wilayah Ibukota mencapai 3.738 kasus. Angka ini naik tiga persen dibanding tahun 2015 lalu dengan periode yang sama, yang hanya mencapai 3.624 kasus”

Dengan angka kecelakaan di Jakarta yang tinggi, itu sebenarnya tak bikin kaget. Karena, di Jakarta terdapat jutaan kendaraan yang berlalulalang setiap harinya. Lebih mencengangkan lagi adalah, kenaikan tiap tahun dalam hal jumlah kendaraan sangat banyak.

Dimulai dari tahun 2009, jumlah kendaraan yang ada di Jakarta sebanyak 10.494.689. Empat tahun selanjutnya angka kendaraan sangat membuat Anda kaget. Jumlah kendaraan di Jakarta pada tahun 2013 sebanyak 16.072.869. Hanya dalam kurun waktu empat tahun, kenaikannya lebih dari 50 persen.

Dari 16 juta kendaraan tersebut, memiliki beberapa jenis kendaraan yang ada. Sepeda motor adalah rajanya kendaraan di Jakarta. Motor di Jakarta pada tahun 2013 jumlahnya 11.949.280. Hanya kurang beberapa saja untuk mencapai angka 12 juta. Selain sepeda motor, 5 juta sisanya adalah seperti mobil penumpang, mobil bus dan kendaraan khusus (ransus).

Dari data tersebut tak salah lagi, jika jalanan Jakarta penuh dengan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor.

Penuh sesak dan kadang mandeg karena saking banyaknya kendaraan yang ada di jalan. Kapasitas jalan dengan jumlah kendaraan yang ada tidak memadai. Dari pagi, siang, sore hingga malam jalanan Jakarta tak pernah sepi.
Aktivitas atau mobilitas warga Jakarta sangat tinggi. Kota ini tak pernah mati.

Jumlah kendaraan bermotor di Jakarta
Jumlah kendaraan bermotor di Jakarta tahun 2009 – 2013. Infografis : Renny Wagia

Mereka yang Menghabiskan Waktu di Jalan

Banyak sekali pekerja di Jakarta yang tinggalnya lumayan jauh dengan tempat kerjanya. Faktor permasalahan utama yang menjadikan para pekerja bertempat tinggal jauh dengan tempat kerjanya adalah harga sewa rumah atau harga rumah di pusat kota harganya mencekik leher.

Doni Saputra misalnya, ia adalah seorang karyawan swasta yang lokasi kerjanya berada di daerah Thamrin, Jakarta Pusat. Sedangkan ia memiliki rumah jauh sekali dengan tempat ia bekerja, ia tinggal di daerah Beji, Depok. Jaraknya kurang lebih rumah ke tempat kerja sejauh 25 Km.

Jika di hari libur, jarak tersebut bisa ditempuh tak kurang dari tiga puluh menit dengan menggunakan sepeda motor. Namun, jika pada hari kerja boro-boro 30 menit. 1,5 jam ia habiskan hanya untuk menembus tempat kerjanya. Jadi, ia menghabiskan waktu 3 jam di jalan setiap harinya. Jika ditotal rata-rata 3 jam sehari, dan dalam sebulan ia bekerja sebanyak 22 hari. Maka jumlah total yang dihabiskan Doni di jalan selama 66 jam dalam sebulan.

Secara gampang, hampir 3 hari 3 malam dalam sebulan ia habiskan di jalan. Jika dalam setahun, dua tahun dan bertahun-tahun? Betapa habis waktunya ia habiskan di jalan.

Doni Saputra tak sendirian, karena mayoritas pekerja di Jakarta nasibnya tak jauh dari itu. Rata-rata para pekerja di Jakarta menghabiskan waktu di jalan selama 2 jam per hari. Betapa melelahkannya.

Transportasi Umum yang Belum Memadai

Di Jakarta terdapat banyak sekali kendaraan umum. Dari metromini, Transjakarta, angkutan kota (angkot), KRL dan lain sebagainya. Namun, itu semua belum memadai dan masih banyak dikeluhkan oleh para penggunanya. Belum lagi KRL yang sering terlambat dan bagaikan tempat pepes saja.

Alternatif Kendaraan on demand

Beberapa tahun terakhir, Jakarta memiliki alternatif transportasi. Saat ini pengendara ojek online jumlahnya sangat banyak. Startup-startup yang jenisnya “layanan ojek online” bermunculan di Jakarta. Tak sedikit juga yang tumbang. Bahkan tumbang sebelum berkembang. Saat ini, di ranah ojek online dirajai oleh beberapa startup, seperti Gojek, Grab, dan Uber.

3 penguasa tersebut masih memiliki jenis-jenis layanan yang lainnya. Saat ini, tak hanya layanan ojek saja. Namun sudah berkembang kepada layanan lainnya. Misalkan di Gojek ada Go-car, Go-food, Go-clean dan lain sebagainya. Grab dalam ini, Grab Indonesia tak mau kalah. Ia mengembangkan dengan GrabFood, GrabCar, GrabExpress dan lainnya. Uber rasanya di tahun mendatang juga akan melebarkan sayapnya. Saat ini ia hanya melayani Uber car, Uber motor dan Uber black.

***

Para pekerja di Jakarta mau tak mau harus menempuh waktu yang panjang di jalan untuk sampai ke tempat ia bekerja. Sebenarnya bukan karena jarak yang terlalu jauh, namun permasalahan utamanya adalah kemacetan di jalan.

Baca juga :
1. Wajah Jakarta dengan Segala Ketimpangannya
2. Jakarta Hidden Tour, Wisata Kumuh yang Menjual Kehidupan Kumuh Jakarta

3. Mereka yang Menghabiskan Waktu di Jalan

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.
SHARE