“Daftar pemilih tetap bukan hanya sebatas angka-angka saja. Melainkan ia adalah warga yang memang harus disejahterakan. Tanpa omong kosong dan bualan manis belaka”.

Setara.net – Jakarta. Sebuah ibukota di negara berkembang di dunia. Kota Jakarta adalah miniatur negara Indonesia. Semuanya ada di Jakarta. Perputaran ekonomi pusatnya ada di kota ini.

Kota Jakarta dihuni oleh banyak orang dari berbagai latar belakang. Hampir semua suku tumpek blek di Jakarta. Jawa, Batak, Sunda, Ambon, Papua dan masih banyak deretan suku lainnya. Hal ini membuat Jakarta pasti memiliki masalah yang sangat komplek. Macet, banjir, pengangguran dan hal-hal lainnya hingga kini masih terus membayangi warga Jakarta dan pemerintahannya.

Nah beberapa hari ke depan, tepatnya tanggal 15 Februari 2017. Jakarta akan melangsungkan hajatan besar-besaran. Pemilihan langsung gubernur. Pemilihan umum ini dilakukan setiap lima tahun sekali.

Menjadi pemimpin di Jakarta bisa diibaratkan seperti layaknya RI 3. Bayangkan saja, betapa tingginya tampuk kekuasaan itu.

Maka tak heran jika setiap pemilihan gubernur Jakarta selalu menjadi isu yang sangat gurih. Semua tertuju ke DKI. Padahal, jika ditilik saat ini di Indonesia yang melangsungkan pilkada sebanyak 101 daerah. Namun, rasanya yang begitu gencar diberitakan oleh media hanya di DKI. 100 daerah lainnya hanyalah bumbu-bumbu pilkada saja.

Isu-isu terus berterbangan setiap harinya. Isu miring dan saling menjatuhkan pasangan calon (paslon) terus dikumandangkan. Tak hanya itu, di media sosial saling ejek antar kubu terus dilakukan tanpa istirahat samasekali.

Pada pemilihan gubernur tahun ini suasananya sangat panas. Hampir mirip 3 tahun lalu, saat pemilihan presiden. Justru, berita palsu terus diproduksi setiap menitnya. Entah untuk menjatuhkan lawan atau menutupi calonnya biar kelihatan mentereng di mata masyarakat. Berita hoax belakangan ini meningkat drastis dibandingkan pilpres 3 tahun silam.

Menurut KPU, data pemilih tetap DKI Jakarta sebanyak 7.108.589 orang. Dengan komposisi Laki-laki 3.561.690 dan perempuan sebanyak 3.546.899. Secara umum, perbandingan jumlah pemilih antara kaum lelaki dan perempuan seimbang.

Pesta demokrasi ini tersebar di 13.023 Tempat pemungutan Suara (TPS). Kemudian untuk pemilih pemula jumlahnya tak terlalu signifikan. Hanya 2,81% saja dari daftar pemilih tetap yaitu sebanyak 199.840 jiwa.

melihat data pemilih tetap dki 2017
melihat data pemilih tetap dki 2017

Melihat data di atas, para calon dan wakil gubernur harus tahu strategi bagaimana menggaet para pemilih ini. Bagaimana cara agar dipilih oleh kaum muda dan tua. Karena jika hanya berkampanye tanpa strategi yang matang, malah akan sia-sia dan hanya menghamburkan duit belaka.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa semua itu butuh biaya. Alih-alih menjadi gubernur. Mencalonkan RW atau lurah saja maka akan mengeluarkan uang banyak, apalagi ini kapasitasnya Gubernur. Jakarta lagi.

Tanggal pencoblosan tinggal sepekan lagi. Debat publik yang diselenggarakan KPU menyisakan babak akhir.

Masyarakat khususnya Jakarta, akan benar-benar melihat dan menantikan kejutan apa yang akan diberikan oleh ketiga calon gubernur pada saat debat terakhir 10 Februari nanti.

Masyarakat tak butuh omong kosong. Yang diinginkan warga Jakarta tak muluk-muluk. Dan pastinya para calon gubernur mengetahui itu.

Pada akhirnya, pesta demokrasi 5 tahunan sekali ini menjadi ajang yang baik untuk belajar demokrasi. Namun, waspadai juga dengan banyaknya kampanye hitam dimana-mana.

Daftar pemilih tetap bukan hanya sebatas angka-angka saja. Melainkan ia adalah warga yang memang harus disejahterakan. Tanpa omong kosong dan bualan manis belaka.

Warga Jakarta sudah pintar. Sudah tahu mana yang harus dipilih dan mana yang harus ditendang jauh-jauh dari kursi empuk gubernur.

Laporan Khusus :

  1. Perlunya Kesadaran Warga Akan Pilkada
  2. Hati-hati Dengan Kampanye Hitam
  3. Melihat Data Pemilih Tetap Pilkada DKI

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.
SHARE