Setara.net – Saya bingung memulai untuk menulis ini. Pada awalnya, beberapa hari sebelum gig berlangsung saya dikontak melalui Messenger Facebook oleh Seal, Sosial-Sosial. “Lo datang ya di GF” Katanya. GF (GF 13 Bar) sendiri adalah sebuah bar kecil di daerah Menteng, tepatnya di dekat stasiun Sudirman. Datang yang dimaksud Seal adalah, di GF akan ada sebuah gig yang diberi judul ‘‘KITA MASIH DISINI”. Gig tersebut seperti yang saya dapatkan info, diinisiasi oleh Ronny, dari Kremlin. Tak menunggu lama, saya langsung membalas “Siap”. Namun setelah percakapan via messenger tersebut, Seal membalas lagi. “Bikin Gig Report”.

Saya sudah pernah datang sekali di GF 13 Bar, Ketika itu  saya datang untuk melihat gig punk. Gig tersebut hanya menampilkan 3 band saja, Sosial Sosial, Bunga Hitam dan Narcolaptic. Nama terakhir berasal dari Jerman. Anda bisa melihat laporannya di sini.

Kemudian, untuk “Kita Masih Disini”, berlangsung pada tanggal 28 Januari 2017 jam 18:30. GF 13 Bar hanya muat untuk 300 orang penonton, maka tiket yang diedarkan atau panitia mencetak tiket sebanyak 300. Gig tersebut menampilkan banyak band. Band-band lawas juga ada. Diantaranya adalah Violate, Total Tolol, Cambodia, Bed Bugs, Last Drive, Aparatur (Total Destroy), Sosial Sosial, Last Gorets, The Idiots, Kremlin dan masih banyak band-band yang main di gig tersebut.

***

Sabtu 28 Januari Acara yang ditunggu-tunggu oleh pelaku punk maupun Skinhead tiba. Saya datang sendirian ke gig sekira pukul 5 sore. Suasana di luar bar sudah ramai dengan anak-anak punk yang nongkrong di depan, samping dan sudut bar. Banyak juga lapak yang menjual asesoris. Dari mulai kaos band-band punk, emblem, kaset dan lain sebagainya. Cuaca sore itu agak mendung, namun yang sudah datang jumlahnya semakin banyak tak menghiraukan dengan cuaca mendung.

Saya langsung menuju pintu masuk bar, dan membeli tiket satu lembar. Kemudian langsung masuk. Namun dilarang oleh panitia. “Nanti dulu aja, masih persiapan” Kata seorang panitia kepada saya, ketika ingin masuk bar. Kemudian saya langsung mencari tempat di depan bar sembari menunggu acara dimulai.

“Bang Sawor ya, ane Robit, yang kemarin inbox untuk nulis di blog” Begitulah ketika saya bertemu dengan Sawor, seorang lelaki dengan rambut mohawk warna-warni. Sawor adalah seorang drummer dari band Serang Serbu. Begitulah awal obrolan saya dengan Sawor. Kami mengobrol mulai dari saya menginginkan dia untuk menulis di blog, hingga ke topik perempuan. Ya begitulah.

Jam sudah menunjukkan 18:30 artinya acara akan dimulai. Penonton sudah berbondong-bondong masuk untuk menyaksikkan band yang tampil. Saya masih urung untuk masuk, sembari saya menghabiskan sebatang rokok, saya duduk di sebelah kiri bar, tepatnya di depan cafe dangdut Puspita. Ya, saya melihat para perempuan yang memakai rok pendek hilir mudik dari dalam cafe. Entah untuk memesan minuman ringan, makanan atau hal lainnya yang entah apa.

Kemudian KR, sang biduan dari Band Bunga Hitam menegur saya. Akhirnya kami mengobrol hampir 2 jam lamanya. Tentu, obrolannya diselingi dengan banyak orang yang menyapa kepada KR. “Gua nunggu disini aja, lagi nungguin orang-orang yang pesen (beli)” katanya kepada seseorang. Maksudnya yang ia jual adalah tiket, kaset, dan kaos. Tentu kaos dan kaset yang ia jual adalah mayoritas diproduksi oleh Anti Music (Anmus).

Anti Music adalah sebuah toko atau distro yang menjual berbagai macam produk. Selain yang saya sebutkan tadi, Anmus juga menjual batu. AntiMusic kalo saya tidak silap, pernah pindah tempat sebanyak tiga kali. Pertama di Radio Dalam, kemudian pindah di Cipulir, Kebayoran Lama dan terakhir atau hingga kini berada di Pasar Pisang, Pal Merah. Untuk di kedua tempat terakhir saya pernah mengunjunginya.

“Punk itu prinsip, jadi lo harus memiliki prinsip dalam hidup” Kata KR sambil menghisap sebatang rokok. “Punk itu gak buta. Punk itu seperti makan. Jadi ketika lo berada di kegelapan, tetap bisa makan. Dan punk itu harus tahu kemana arahnya” lanjut KR. Saya mengobrol apa saja dengan KR. Ketika saya bertanya mengenai pendapatnya tentang generasi punk sekarang, ia menjawabnya dengan simpel. “Regenerasi itu urusan masing-masing” ujarnya. Dan “Selama ada penindasan, punk itu akan ada” tandas KR.

Jam di tangan sudah menunjukkan 21:00. Saya dan banyak kawan-kawan yang di luar Bar masuk dan merangsek ke dalam. Saya telah melewatkan beberapa band. Pada saat saya masuk, band yang sedang main adalah Serang Serbu. Penonton sudah penuh sesak. Tiket ludes terjual. Dan banyak orang yang tak mendapatkan tiket untuk masuk karena kuota tiket dibatasi. Jadi ketika acara berlangsung, di luar bar masih banyak orang yang tak kebagian.

Serang Serubu usai, dilanjutkan oleh Bed Bugs. Bed Bugs bermain beberapa lagu. Dan sialnya saya lupa menghitung. Dengan suara vokal yang sedikit berat, penonton langsung pogo. Banting tubuh ke kanan-kiri. Kepulan asap rokok dan sumpeknya tempat tak membuat masalah untuk berpogo

Bed Bugs di Gig Kita Masih Disini (28/1) - Setara.net
Bed Bugs di Gig Kita Masih Disini (28/1) – Setara.net / Robit

Kemudian Last Drive, naik setelah Bed Bugs. Seperti biasa, banyak penonton yang sudah hafal dengan lagu-lagunya Last Drive. Penonton menari-nari dan beberapa yang menarik mikrophone untuk bernyanyi bersama. Aparatur naik panggung. Band ini dulunya bernama Total Destroy, kalau tidak salah band ini ganti nama sekira setahun silam.

Pukul 23:00 Aparatur dengan genre hardcore-punk menggebrak panggung malam itu. Penonton lebih gila lagi. Pogoan terus berlangsung. Sang gitaris, Eriq terlihat kebanyakan minum. Ia ketika memungkasi penampilannya hampir saja jatuh.

Aparatur di Gig Kita Masih Disini (28/1)
Aparatur di Gig Kita Masih Disini (28/1) Setara.net/Robit

Kemudian band Sosial-Sosial naik panggung. Malam itu Seal tak seperti biasanya. Seal melepas bajunya dan bertelanjang dada. “Kenapa lepas baju? Gue mau memerkan bahwa perut gue sekarang udah buncit” ucapnya ketika mengawali Sosial Sosial unjuk gigi. Lagu pertama yang dibawakan Sosial Sosial malam itu adalah Demokrasi Ujung Tai. Lagu yang menceritakan tentang keadaan demokrasi di Indonesia. Sosial Sosial memainkan sebanyak lima lagu. Mereka megakhiri aksinya dengan lagu “Yang Tua Yang Berambisi”. Penonton sudah jingkrak-jingkrak. Sing a long. Seru sekali.

Tak lama setelah Sosial Sosial turun, band Las Gorets naik. Last Gorets kalau saya tak salah ia mengusung genre skinhead. Penonton maju semua mendekati panggung. Bahkan banyak yang naik panggung untuk pogo. Beberapa orang ada yang moshing.

Sosial sosial di Gig Kita Masih Disini (28/1) Setara.net/Robit
Sosial sosial di Gig Kita Masih Disini (28/1) Setara.net/Robit

Lalu, The Idiots naik. Mereka bermain denga 5 lagu. Dimulai dari “Hidup Dalam Bahaya” Penonton semakin merangsek ke depan. Di atas panggung pun juga sesak karena banyak penonton yang menggambil gambar, berpogo dan ikut bernyanyi. Tak hanya itu, The Idiots juga membawakan Ancaman yang saat itu berganti vokal kepada KR. Penonton masih ingin menikmati The Idiots, namun waktu sudah terlalu larut. The Idiots selesai main.

The Idiots di Gig Kita Masih Disini (28/1) Setara.net/Robit
The Idiots di Gig Kita Masih Disini (28/1) Setara.net/Robit

00:39 Band terakhir, band lawas dari barat Jakarta, Kremlin. Kremlin adalah band yang lirik-liriknya mayoritas mengkritik politik di Indonesia.

“Di negri permai ini berjuta rakyat bersimbah luka
Anak buruh tak sekolah, pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami, padamu kami berjanji”

Lirik lagu Darah Juang mengawali Kremlin. Penonton ikut bernyanyi. Lagu  Darah Juang, adalah lagu yang sangat dalam maknanya. Lagu tersebut dulu ketika ada demo untuk menumbangkan rezim Orde Baru, sering dinyanyikan. Lagu Darah Juang layaknya puisinya Widji Thukul yang berjudul “Peringatan”. Ia adalah pembakar atmosfir massa demo kala itu.

Setelah Darah Juang, seperti biasa pembacaan puisi oleh Kremlin dimulai. Karena ramainya penonton, saya sampai kurang jelas puisi apa yang dibacakan oleh Kremlin. Kremlin membawakan beberapa lagu. Hingga pukul satu lebih usai.

Kremlin di Gig Kita Masih Disini (28/1) Setara.net/Robit
Kremlin di Gig Kita Masih Disini (28/1) Setara.net/Robit

Akhirnya gig pun selesai dengan puas. Tak ada kekacauan malam itu. Tak ada yang bikin onar. Dan selanjutnya saya masih terus menantikan gig punk di Jakarta dan sekitarnya. Eittsss… Tunggu sebentar lagi ya, kabarnya akan ada Kingkong III.

Foto-foto Gig Kita Masih Disini 28/1 di GF Bar Punk, Menteng Jakarta Pusat.

Gig Punk Kita Masih Disini
Gig Punk Kita Masih Disini
Gig Punk Kita Masih Disini
Gig Punk Kita Masih Disini
Gig Punk Kita Masih Disini
Gig Punk Kita Masih Disini

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.

Latest posts by Robit Mikrojul Huda (see all)

SHARE