Kemacetan di Jakarta rasanya tidak hanya di jam kerja saja, namun sudah menjadi makanan sehari-hari. Ia tak mengenal waktu.

Setara.net – Seperti pada postingan sebelumnya, bahwa Jakarta adalah kota yang sangat padat penduduk. Bahkan di Jakarta Barat dalam satu kilometer persegi telah dihuni sebanyak 19.000 jiwa.

Menilik dari persoalan di atas, dengan kepadatan penduduk yang semakin menjadi. Bagaimana untuk sistem transportasi dan tingkat kemacetan di jalanan Jakarta?

Kita bisa melihat terlebih dahulu bahwa pada tahun 2015 menurut data dari BPS DKI Jakarta, jumlah motor di Jakarta mencapai 13.989.590 unit dengan pertumbuhan di tahun sebelumnya sebesar 9,14 persen. Lantas di ranah mobil penumpag di tahun yang sama jumlah mobil di Jakarta sudah mencapai angka 3.469.368 unit. Angka pertumbuhan dari tahun sebelumnya sebesar 8,09 persen.

Dalam setiap harinya, seperti dikutip dari Kumparan bahwa motor dan mobil baru jumlahnya sangat mencengangkan. “Satu hari yang daftar mobil baru itu ada sekitar 300-400 mobil, motor bisa sampai 800. Setiap hari! Tiap hari ada motor baru, mobil baru seribu lebihlah kira-kira,” kata Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Balai Kota.

Jadi jika dihitung secara pukul rata, setiap penduduk di Jakarta ini pasti punya kendaraan. Jumlah penduduk di Jakarta masih menurut BPS adalah sebanyak 10,2 juta jiwa. Bandingkan dengan jumlah kendaraan yang ada, jumlahnya sangat melampaui dengan jumlah penduduknya. Tentu, ini hanyalah hitungan pukul rata saja.

Nah menjawab judul tulisan ini, kota Jakarta nomor berapa sih dalam hal tingkat kemacetannya? Jawaban ini bisa kita lihat dari hasil survei yang dilakukan oleh TomTom Traffic Index 2017. Tomtom Traffic Index merupakan laporan yang memerinci kota dengan lalu-lintas tertinggi. Survei ini dilakukan oleh TomTom yang berpusat di Amsterdam, Belanda.

Ternyata Jakarta menjadi kota termacet di urutan ketiga dunia. Dengan lalulintas yang tinggi, berkendara di Jakarta bisa membutuhkan waktu ekstra sebanyak 58 persen. Ibukota Indonesia ini hanya lebih baik dibandingkan dengan Bangkok, Thailand dan Meksiko. Di Meksiko pengendara bisa menghabiskan waktu perjalanan ekstra sebanyak 66 persen. Sedangkan di Bangkok Thailand memerlukan tambahan waktu sebesar 61 persen.

Kota Termacet di dunia 2017
Kota termacet di dunia. Infografis oleh Setara.net

Dengan mendapatkan predikat kota termacet ketiga dunia, bagaimana langkah ke depan yang dilakukan oleh pemerintah?

Jika penjualan kendaraan pribadi entah motor ataupun mobil terus tumbuh dari tahun ke tahun, bisa dipastikan Jakarta menjadi lautan kuda besi. Kemacetan di Jakarta rasanya tidak hanya di jam kerja saja, namun sudah menjadi makanan sehari-hari. Ia tak mengenal waktu.

Langkah yang bisa kita lakukan untuk menghindari kemacetan dan membuang waktu di jalan adalah dengan cara pada saat berangkat dan pulang dalam melakukan aktivitas sehari-hari dengan menggunakan angkutan umum. Namun, transportasi publik di Jakarta masih banyak kekurangan disana-sini. Walaupun di beberapa tahun belakangan ini kondisinya sudah mendingan dan lebih baik. Tapi alih-alih warga Jakarta banyak yang beralih ke moda transortasi umum, mereka masih bersetia dengan kendaraan pribadi.

Hal ini juga ditambah lagi dengan munculnya perusahaan ojek online yang semakin hari semakin menjamur. Kemacetan di Jakarta sudah menjadi momok dan sudah pada puncaknya. Akankah ini terus berlangsung? Kita tunggu saja.

Laoran Khusus:

  1. Melihat Jumlah Penduduk Jakarta dan Hunian Apa yang Tepat Untuk Warganya
  2. Wajah Jakarta dengan Segala Ketimpangannya
  3. Mereka yang Menghabiskan Waktu di Jalan
  4. Kota Termacet di Dunia, Jakarta Nomor Berapa?

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.

Latest posts by Robit Mikrojul Huda (see all)

SHARE