Kawasan Karst Pegunungan Kendeng yang sesuai Undang-Undang adalah kawasan lindung. Namun nyatanya pabrik semen dalam hal ini  PT. Semen Indonesia akan menambang dan membuat pabrik semen di wilayah tersebut.

Setara.net – Sejarah telah mengatakan manusia hidup dari jaman purba hingga sekarang tak bisa dilepaskan dari alam. Alam adalah suatu hal yang penting bagi kehidupan manusia. Jauh sebelum dunia digilas oleh pembangunan yang semakin membabi-buta, sebelum beton-beton itu menjulang ke langit, gedung-gedung pencakar langit bertebaran dimana-mana, alam sangat berkaitan erat dengan manusia dan hidup seakan terasa sejahtera.

Bangsa Indonesia sejak berabad silam telah dikenal dengan Sumber Daya Alam-nya yang subur oleh dunia. Maka dari itu, para penjajah dulu datang ke bumi nusantara untuk menjarah kekayaan alam Nusantara.

Kita tak akan berbicara jauh ke belakang dan juga tak akan ndakik-ndakik mengulas sejarah Nusantara. Disini saya akan sedikit membahas apa yang sedang diperjuangkan oleh warga Pati, Rembang, Blora dan sekitarnya untuk menolak hadirnya pabrik Semen di Pegunungan Kendeng.

***

Sabtu malam (25/2) di depan sebuah bar di kawasan Jakarta Pusat sudah ramai oleh anak-anak punk dan juga skin head. Hari itu ada sebuah acara penggalangan dana atau donasi untuk membantu perjuangan penolakan pabrik semen di daerah Kendeng, Jawa Tengah.

Punk lahir untuk melawan

Dengan keresahan dan perjuangan warga di kawasan Kendeng sekitarnya, rasanya kita tak bisa diam dan tidak melakukan sesuatu. Sebuah perlawanan akan berat jika dilakukan dengan sendirian, maka dari itu kitalah turut berjuang dalam menolak kehadiran pabrik semen tersebut.

Punk lahir untuk melawan. Punk tak hanya berpenampilan mohak, sepatu boots dan mengenakan jaket kulit. Punk bukanlah sebagai gaya saja, namun lebih dari itu.

Maka dari itu, Komunitas Punk Jakarta Untuk Kendeng membuat sebuah acara yang bertema #SaveKendeng. Acara ini diadakan di GF Bar Punk, Blora, Menteng, Jakarta Pusat. Gig tersebut menampilkan band-band beraliran punk pun juga skin head. Pengisi gig malam itu tak hanya band dari Jakarta saja, namun dari berbagai kota. Dari Cirebon, ada juga Semarang dan hadir pula band dari Blora.

Band-band tersebut diantaranya adalah Last Gorets, Sosial Sosial, The Idoiots, Total Riot (Cirebon), Ejakulator (Semarang), Anti Kuman (Blora) dan beberapa band punk maupun skin di Jakarta. Banyak para pelaku punk dan skin yang hadir dalam acara ini. Mereka datang untuk mendukung apa yang dilakukan oleh kawan-kawannya di daerah atas perlawanannya terhadap PT Semen Indonesia.

Acara malam itu berlangsung dengan lancar band-band bermain silih berganti. Pukul 9.30 baru dimulai, Malam itu seakan Punk Jakarta lebih menjamu tamu band dari luar Jakarta untuk bermain lebih lam. Total Riot dari Cirebon bermain di atas panggung lebih dari 45 menit.

Total Riot
Total Riot

Lalu ada Anti Kuman asal Blora membawakan 4 lagu. Band dari Blora ini ketika naik panggung juga membentangkan spanduk yang berisi “Penolakan Pabrik Semen di Pegunungan Kendeng Utara”. Sebelum Anti Kuman melakukan aksinya, Sariman Lawantiran selaku vokalis berorasi. Orasi tersebut secara garis besar adalah penolakannya terhadap pabrik semen dan mengucapkan terimakasih kepada teman-teman punk yang telah mendukung masyarakat Kendeng.

Anti Kuman
Anti Kuman

Setelah itu, band dari kota Semarang Ejakulator tampil. Sebelum menyanyikan lagu-lagunya, band ini menggemakan sebuah doa.

Ibu Bumi wis maringi (Ibu Bumi sudah memberi)

Ibu Bumi dilarani (Ibu Bumi disakiti)

Ibu Bumi kang ngadili (Ibu Bumi yang mengadili)

La ilaha illallah, Muhammadun rasulullah 

Setelah lantunan doa usai, mereka langsung membawakan sebuah lagu yang berjudul Moral Distortion. Kemudian lagu selanjutnya adalah berjudul Ganjar A*u. Ya, sekali lagi saya ulang lagu tersebut berjudul “Ganjar A*u!”

The Idiots
The Idiots

Selanjutnya band asal Jakarta, The Idiots naik panggung. Dimulai dengan lagu Hidup Dalam Bahaya, suasana malam itu penuh. Pogo di depan panggung terus berlangsung. Sama seperti Anti Kuman, The Idiots malam itu mendendangkan 4 lagu.

Lantas Sosial Sosial. Band asal Jakarta yang digawangi oleh Seal ini menutup acara malam itu. Sosial Sosial saat itu personilnya tidak lengkap. Pada gitarnya dimainkan oleh Eko BH. Seperti biasanya, Seal sebagai vokalis berbicara mengenai Pegunungan Kendeng dan penolakannya terhadap PT. Semen Indonesia. Dimulai dengan lagu “Yang Tua Yang Berambiis” suasa semakin ramai. Pogo dan sing along terus bergemuruh di GF Bar malam itu. Lagu Demokrasi Ujung Tai mengakhir gig malam itu

Mengapa Harus Menolak Pabrik Semen?

Mengapa harus menolak kehadiran pabrik Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng dan mengapa kita ikut mendukung apa yang dilakukan oleh kawan-kawan di sekitar Pegunungan Kendeng.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, bahwa kawasan Karst Pegunungan Kendeng yang sesuai Undang-Undang adalah kawasan lindung. Namun nyatanya pabrik semen dalam hal ini PT. Semen Indonesia akan menambang dan membuat pabrik semen di wilayah tersebut. Dari sini saja, sudah menyalahi aturan, akan tetapi mengapa izin mendirikan pabrik di kawasan lindung itu dikeluarkan oleh pemerintah (Gubernur Jawa Tengah)?

Penolakan didirikan pabrik Semen ini sebenarnya sudah berjalan bertahun-tahun. Pergerakan oleh masyarakat Kendeng ini mulai dilihat banyak orang dan juga media karena perjuangan ibu-ibu Kendeng. Perempuan-perempuan Kendeng ini dengan semangatnya terus menolak adanya pabrik semen.

Ibu-ibu itu terus berjuang berhari-hari dan mendirikan tenda di sekitar pegunungan Kendeng. Bahkan di bulan April tahun laliu, ibu-ibu pejuang (9 Kartini Kendeng) tersebut duduk berjejer dengan menggunakan caping dan mengecor kakinya dengan semen di depan istana negara sebagai bentuk penolakan.

Dikutip dari Kompas, “Menurut Joko Prianto, pendamping sembilan Kartini sekaligus petani asal Rembang, aksi pengecoran kaki dengan semen ini merupakan simbol penegasan kepada pemerintah bahwa hadirnya semen di wilayah pertanian pegunungan Kendeng dapat memasung dan merusak sumber kehidupan para petani”.

ibu-ibu kendeng menyemen kaki di depan istana negara
ibu-ibu kendeng menyemen kaki di depan istana negara

Penolakan demi penolakan terus dilakukan.

Penolakan ini jelas dilakukan oleh masyarakat Kendeng. Pasalnya adalah jika kawasan karst Kendeng tersebut ditambang dan dijadikan pabrik Semen maka kehidupan masyarakat sekitar akan terganggu. Karena dari gua-gua yang ada di Pegunungan Kendeng (sebanyak 64 gua) tersebut mengalirkan sumber air ke masyarakat. Jika pertambangan dan pabrik itu beroperasi maka warga sekitar akan kekeringan. Selain kekeringan, kegiatan bertani akan terhenti dan juga peternakan warga sekitar akan hilang.

Perlawanan masih panjang

Dikutip dari Rappler Indonesia, “Mahkamah Agung mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan oleh Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) terkait pembangunan pabrik semen di daerahnya, pada 10 Oktober 2016”. Permohonan ini untuk membatalkan proyek yang disebut mengancam keberlangsungan hidup petani di Rembang, Pati, Jawa Tengah.

Namun, yang tak habis pikir adalah pemerintah dalam hal ini Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menerbitkan izin lingkungan terbaru kepada PT. Semen Indonesia pada bulan lalu, tepatnya tanggal 23 Februari 2017.

Izin terbaru yang diterbitkan itu adalah untuk mengatur kegiatan penambangan dan pembangunan pabrik semen Indonesia. Penerbitan izin dituangkan dalam Keputusan Gubernur Nomor 660.1/6 Tahun 2017

Menilik perusahaan PT. Semen Indonesia dalam website-nya Misi perusahaan ini adalah :

  1. Mengembangkan persemenan dan industri terkait yang berorientasikan kepuasan konsumen
  2. Mewujudukan perusahaan berstandar internasional dengan keunggulan daya saing dan sinergi untuk meningkatkan nilai tambah secara berkesinambungan.
  3. Mewujudkan tanggung jawab sosial serta ramah lingkungan
  4. Memberikan nila terbaik kepada para pemangku kepentingan (stakeholders)
  5. Membangun kompetensi melalui pengembangan sumber daya manusia.

Pada poin empat sudah jelas bahwa PT. Semen Indonesia memiliki misi bahwa “Mewujudkan tanggung jawab sosial serta ramah lingkungan”, tapi apakah perusahaan ini sadar bahwa yang dilakukan di kawasan Pegunungan karst Kendeng akan memiliki dampak yang “tak ramah lingkungan?”

Pada akhirnya adalah perjuangan ini terus dilakukan. Perjuangan tak pernah berhenti, justru pergerakan ini semakin besar dari hari ke hari. Walaupun berat, namun penolakan ini akan terus dilakukan.

Hasil Donasi

Dengan antusias para pelaku punk dan skin di Jakarta dan sekitarnya, akhirnya malam itu donasi terkumpul sementara (28/2) sebanyak Rp 3.580.000. Rincian donasi tersebut saya kutip dari akun facebook Attak Empatujuh terkumpul dari berbagai macam.

  1. Benefit Tiket acara sebesar 1.000.000
  2. Benefit Merchandise (sticker, poster, dan kaos cukil) sebesar 900.000
  3. Benefit kaos Oncom Merch sebesar 500.000
  4. Donasi penggiat Pandan Lover sebesar 480.000
  5. Donasi Kaliwungu Punks sebanyak 200.000
  6. Donasi Kaos Roemah Goegah sebesar 500.000

Hasil donasi tersebut sepenuhnya disumbangkan kepada Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK).

Mengutip salah satu satu puisinya Widji Thukul, Hanya ada satu kata, Lawan!

Baca Juga : Sebuah Laporan Gig Punk di Jakarta “Kita Masih Disini”

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.
SHARE