Wajah Jakarta dengan Segala Ketimpangannya

Jakarta adalah sebuah kota yang tak pernah mati. Pagi-pagi sekali, aktivitas di kota ini sudah bergeliat. Jakarta tak seindah yang dibayangkan oleh banyak orang. Jakarta memiliki sisi gelapnya tersendiri bagi pendatang ataupun warga asli Jakarta pinggiran.

0
kesenjangan Jakarta

Setara.net – “Siapa suruh datang Jakarta, siapa suruh datang Jakarta, sendiri suka sendiri rasa.. eh doe sayang”.

Anda masih ingat petikan lagu di atas? Begitulah kira-kira penggambaran para pendatang yang ingin merantau ke Jakarta. Jakarta menjadi magnet bagi orang-orang kampung. Seakan mereka yang datang akan meraih kesuksesan dengan mudah.

Mimpi-mimpi dari kampung ia bawa dan akan direalisasikan di Ibukota. Namun, mimpi tinggallah mimpi. Banyak orang, bahkan ribuan orang yang tak bisa menggapai mimpinya di kota Jakarta. Banyak anak-anak dan orang tuanya yang tinggal di emperan ruko.

Jakarta tak seindah yang dibayangkan oleh banyak orang. Jakarta memiliki sisi gelapnya tersendiri bagi pendatang ataupun warga asli Jakarta pinggiran. Kemiskinan di Jakarta jumlahnya banyak. Itu yang terhitung dan terlihat. Bagaimana dengan yang tidak terlihat? Ah… Jakarta … Jakarta.

Mengenai hal di atas, sampai salah seorang memiliki gagasan untuk membuat wisata yang bisa dikatakan menjual kemiskinan di kota Jakarta. Pariwisata yang tak biasa ini disebut dengan “Jakarta Hidden Tour”. Wisata ini dibentuk oleh Ronny Poluan pada tahun 2008 silam.

Jakarta adalah sebuah kota yang tak pernah mati. Pagi-pagi sekali, aktivitas di kota ini sudah bergeliat. Pukul tujuh hingga sepuluh, jalanannya seakan tak ada yang tersisa sudut-sudut jalan terisi. Berbagai jenis kendaraan bersatu-padu menuju ke tempat tujuannya masing-masing. Suara bising klakson di perempatan tak ada habisnya. Lampu merah seakan tak ada gunanya di kala pagi maupun sore hari. Apalagi ketika hujan datang.

Senja baru saja menghinggapi Jakarta, suasananya seperti tak teratur. Hiruk-pikuk kendaraan yang tak ada habisnya. Kendaraan bagaikan onggokan sampah. Malam tak kalah serunya, para pedangang kaki lima yang memakan bahu jalan telah siap menjajakan jualannya.

Macam-macam kuliner mereka jual. Dari halal hingga haram tersedia. Dari harga ribuan hingga ratusan ribu mereka tawarkan. Itu hanyalah yang terlihat di pinggiran Jakarta. Belum lagi kafe-kafe yang berjejer dengan segala kemewahan yang disediakan. Klub-lub malam mulai beroperasi, serta para “penjaja” yang siap menunggu di pinggiran jalan. Untuk kalangan kelas menengah dan atas berbeda lagi. Ia tak akan meresakan kepengapan malam di pinggiran jalan. Namun mereka menghabiskan waktunya di kafe maupun klub malam.

Surga? ah rasanya tidak mutlak seperti itu. Gambaran tersebut hanya dari satu sudut pandang saja.

Dengan segala hiruk-pikuknya, kota ini memiliki ketimpangan hidup yang sangat mencolok. Gedung-gedung pencakar langit dengan segala kemewahannya, namun di sebelahnya atau tak jauh dari gedung tersebut terdapat rumah-rumah kecil. Gubuk untuk tempat tinggal yang benar-benar tak layak huni. Di pinggiran sungai, bawah jembatan dan lain sebagainya berjejeran rumah yang sangat miris sekali.

Dengan segala ketimpangannya, maka tak ayal hidup di Jakarta seperti melihat yin dan yang. Di satu sisi kelas menengah dan atas hidupnya sangat mewah sekali. Pada saat makan, ia bisa menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk sekali makan.

Di lain pihak, banyak sekali anak-anak yang kekurangan gizi, dan kelaparan karena belum makan seharian penuh. Alih-alih untuk membeli susu dan makan dengan menu empat sehat atau lima sempurna. Seiris tempe goreng saja kadang tak ada untuk dimakan.

Hidup di Jakarta tak seindah yang dibayangkan oleh mayoritas orang. Mereka berfikir bahwa,

“enak ya hidup di Jakarta, apa-apa ada, tinggal beli. Lowongan kerja juga banyak”.

Pemikiran kebanyakan orang dari luar Jakarta akan memikirkan seperti itu. Memang pemikiran tersebut tidak salah sepenuhnya. Ada benarnya. Namun hanya untuk kalangan tertentu saja. Banyak sekali warga Jakarta dan pendatang yang merasakan hidupnya di Jakarta seperti neraka.

Tidak salah mengejar mimpi di Jakarta. Namun, harus memiliki bekal yang mumpuni. Jika tak ada bekal dan skill yang di atas rata-rata, maka akan menambah jumlah pengangguran di Jakarta.

Tingkat kemiskinann dari data BPS Jakarta, menunjukkan bahwa masyarakat miskin Jakarta selalu naik-turun. Tapi yang pasti, angka kemiskinan di Jakarta sangat banyak sekali.

Diambil dari BPS Jakarta, dari tahun 2009 hingga 2013. Jumlah penduduk miskin sangat mencengangkan. Pada tahun 2009 jumlahnya sebesar 339,6 ribu, kemudian di tahun 2010 angkanya naik tajam yaitu 388,2 ribu jiwa. Namun pada tahun 2011 jumlah penduduk miskin berkurang menjadi 355 ribu jiwa. Tetapi, di tahun selanjutnya angka kemiskinan Jakarta terus naik. Bisa dilihat pada tahun 2012 jumlahnya menjadi 366,3 ribu jiwa, terus naik pada tahun 2013 di angka 371,7 ribu jiwa penduduk miskin.

data penduduk miskin dki jakarta
Data Penduduk Miskin Jakarta dari tahun 2009-2013. Infografis : Renny Wagia

Kemiskinan kota dilihat tak harus dengan angka-angka. Ia lebih dari itu. Angka hanya menunjukkan jumlahnya saja. Yang terpenting adalah bagaimana penduduk miskin tersebut bisa terlepas dari lilitan hidup miskin. Dan lebih dari itu, warganya bisa hidup layak selayaknya manusia.

Jakarta memiliki sisi terang dan gelap yang sangat mencolok. Petikan lagu di awal tulisan sangat dan sangat perlu direnungkan bersama. Dan itulah wajah Jakarta dengan segala ketimpangannya yang tak pernah selesai dimakan jaman.

 

Laporan Khusus : 

1. Jakarta Hidden Tour, Wisata yang Menjual Kehidupan Kumuh Jakarta.
2. Mereka yang Menghabiskan Waktu di Jalan
3. Menikmati Panorama Jakarta dengan “Jakarta Visual Tour”
4. Wajah Jakarta dengan Segala Ketimpangannya

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.
SHARE