“Indonesia milik semuanya dari Sabang sampai Merauke. Sekalipun hampir semua mata tersorot ke pulau Jawa”

Setara.net – Dalam catatan sejarah, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Pada tahun 1987 saja, Pusat Survei dan Pemetaan ABRI (Pussurta ABRI) menyatakan bahwa jumlah pulau di Indonesia adalah sebanyak 17.508, di mana 5.707 di antaranya telah memiliki nama. Ini menunjukkan Indonesia adalah negara yang besar.

Tapi faktanya mengatakan dari banyaknya pulau yang dimiliki Indonesia, sedikit demi sedikit banyak pihak asing yang mengintervensinya. Hingga pada akhirnya satu persatu pulau Indonesia mulai hilang dengan sendirinya. Ada yang dijual secara ilegal, diklaim secara sepihak atau memang tidak diperhatikan lalu dikelola oleh pihak asing.

Karenanya beberapa tahun belakangan sejak diangkatnya Jokowi sebagai presiden, Tentara Negara Indonesia dibidang maritim mulai mengamankan hal itu. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pemerataan pertahanan disetiap perbatasan di Indonesia, baik di bagian utara, selatan, barat atau timur.

Dari banyaknya pulau di Indonesia yang kebanyakan dikenal hanyalah pulau-pulau besar yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Seperti pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku atau pun Papua, selebihnya itu hanya mereka yang konsen dengan geografis Indonesia yang kenal nama-nama pulau lainnya.

Tapi dari banyaknya pulau di Indonesia ada sesuatu yang dirasa timpang. Ketimpangan ini bukan hanya dirasakan oleh sebagian wilayah saja, tapi hampir seluruh wilayah di Indonesia. Ketimpangan itu adalah, ‘Indonesia bukan hanya pulau Jawa.’

Ini mengartikan bahwa pulau Jawa seolah menjadi primadona di Indonesia. Apa-apa selalu di Jawa dan bahkan ada pula yang mengatakan Ibukota harus dipindahkan dari Jakarta. Ungkapan semacam ini memberikan kesan bahwa selama ini memang pulau Jawa menjadi titik pusat segala aktivitas di Indonesia, baik itu ekonomi, pemerintahan dan lain-lain. Sehingga memberikan efek negatif berupa rasa minder pada wilayah lain.

Bahkan yang parahnya lagi, pemerataan dari bidang media dan pemberitaan pun sangatlah timpang. Apa yang terjadi di Jawa dengan sekejap bisa dimunculkan di media, sedangkan apa yang terjadi di luar Jawa perlu ada waktu untuk muncul dipermukaan media. Sekali lagi ini menunjukkan ketimpangan yang jelas atau dalam arti lain masih buruknya pemerataan fasiltas dan pelayanan.

Karenanya perlu adanya pendidikan atau penanaman rasa percaya diri terhadap daerahnya sendiri. Meski secara geografis berada di sebrang atau perbatasan, namun rasa cinta daerah harus tetap ditanamkan sejak dini. Agar dikemudian hari generasi penerus daerah bisa memiliki cita-cita untuk membangun dan memajukan daerahnya.

Banyak sarjanawan mengatakan ketertinggalan daerah lain di Indonesia oleh sebab kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas. Sehingga peradaban yang terbentuk juga rada lambat ketimbang wilayah yang memiliki sumber daya manusia yang tinggi.

Oleh sebab itulah mulai saat ini pemerintah Indonesia gencar memberikan beasiswa pendidikan untuk siswa-siswa atau mahasiswa di luar pulau Jawa. Tujuannya tidak lain adalah agar dari beasiswa tersebut lahirlah ilmuan-ilmuan spesifik yang nantinya mampu merubah dan memajukan daerahnya.

So, Indonesia bukan hanya pulau Jawa. Indonesia milik semuanya dari Sabang sampai Merauke. Sekalipun hampir semua mata tersorot ke pulau Jawa, namun yang pasti kita harus yakin dan percaya diri dengan daerah kita masing-masing.

Salah satu indikasi terbesar kemajuan suatu negara apabila pemerataan di segala bidang bisa dilakukan, baik itu ekonomi, pendidikan, teknologi atau yang lain.

Mas Halfi

Hanya seorang blogger yang terkagum-kagum dengan hermeneutika.

Latest posts by Mas Halfi (see all)

SHARE