Hal ini mengacu pada jumlah pengguna smartphone di Indonesia angkanya dari tahun ke tahun terus menanjak tak terhentikan.

Setara.net – Pada Tujuh tahun silam, pengguna smartphone di Indonesia masih sedikit sekali. Bahkan saat itu memiliki smartphone adalah suatu kemewahan tersendiri di Indonesia. Memiliki smartphone adalah orang-orang “kaya”. Sekitar tahun 2009 hingga 2010 adalah masa-masa peralihan Nokia dan sejenisnya ke merk Blackberry.

Dengan digilasnya Nokia oleh Blackberry membuat masyarakat Indonesia lebih sering ngobrol ‘chatting” dengan sesama pengguna Blackberry. Tahun-tahun itu, kejayaan Nokia runtuh ditendang oleh Blacberry dengan aplikasi andalannya Blackberry Mesenger (Bbm). Dengan adanya bbm, maka SMS lama kelamaan mulai ditinggalkan oleh pengguna handphone di Indonesia.

Matinya SMS dan Blackberry (Bbm)

Masih ingat bukan, ketika kita mengirim pesan pendek kepada orang lain melalui SMS, maka kita akan dikenakan biaya sebesar 350. Jika Anda berkirim pesan sebanyak sepuluh kali, maka sudah bisa dihitung 3,500 yang dikenakan oleh operator seluler. Namun hal ini tak berselang lama, ketika Blackberry membawa aplikasi jagoannya bernama Bbm, maka SMS langsung dihempaskan ke dalam jurang.

Banyak orang beralih menggunakan Blackberry, membuat SMS tak bisa berkutik. Hanya dengan sambungan internet, Anda bisa sepuasnya chatting dengan teman bbm-mu. Menariknya lagi adalah, fitur bbm hampir mirip dengan akun sosial media. Bisa update status, pasang foto profil, dan bisa mengirim gambar serta video. Pada awalnya Blackberry masuk ke Indonesia, grup-grup Bbm riuh sekali. Balckberry menjadi raja di Indonesia.

Sayangnya, kejayaan itu runtuh oleh ulah Blackberry sendiri. Ketika Bbm andalannya bisa digunakan oleh OS Android dan iOS membuat Blackberry menggali kuburnya sendiri.

Era Android & iOS

Dengan memiliki dan menggunakan Operation System (OS) Android dan iOS, maka banyak sekali aplikasi yang bisa diunduh dan gratis. Jutaan aplikasi tersedia di Playstore (Android) dan di App Store untuk pengguna iOS membuat masyarakat Indonesia beralih ke smartphone berbasis Android maupun iOS. Belum lagi harga handphone Android yang cenderung lebih murah dibandingkan dengan Blackberry membuat Android laris manis di pasaran.

Pengguna Smartphone

Penetrasi pertumbuhan pengguna internet di Indonesia adalah paling cepat di dunia. Ia mengalahkan negara-negara di Asia seperti India maupun Filipina. Penelitian yang dilakukan oleh Emarketer menunjukkan bahwa Indonesia akan menjadi raksasa teknologi digital di Asia. Hal ini mengacu pada jumlah pengguna smartphone di Indonesia angkanya dari tahun ke tahun terus menanjak tak terhentikan.

Di 2013 pengguna smartphone di Indonesia jumlahnya hanya 27,4 juta saja. Namun di tahun berikutnya melonjak hampir 11 juta pengguna baru, yaitu di angka 38,3 juta. Di tahun 2016 lalu, pengguna smartphone di Indonesia hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2014 yaitu menjadi 69,4 juta. Emarketer memeperkirakan di tahun 2017 ini, pengguna smartphone di Indonesia mencapai 103 juta. Ya, 103 juta pengguna smartphone.

Jumlah Pengguna Smartphone di Indonesia
Jumlah Pengguna Smartphone di Indonesia | Setara.net

Mengapa pengguna smartphone di Indonesia terus bertambah?

Banyaknya merek-merek smartphone di pasaran dari Cina yang harganya satu jutaan dengan fitur yang lumayan lengkap, membuat banyak orang gampang memiliki. Saat ini anak belasan tahun saja sudah memiliki smartphone. Alih-alih anak belasan tahun, bahkan usia Sekolah Dasar (SD) saja, tak sedikit yang memiliki smartphone. Selanjutnya mudahnya para orangtua memperbolahkan anaknya menggunakan smartphone.

Bisnis yang bisa dimanfaatkan

Indonesia dan dunia ke depan adalah eranya digital. Dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat dan jumlah pengguna smatphone di Indonesia hampir setengah dari populasi Indonesia membuat ceruk bisnis terbuka lebar.

Bisnis yang menjanjikan di tahun-tahun depan adalah ecommerce. Ketika dunia penuh teknologi seperti sekarang, banyak yang  masih bertahan dengan lini bisnis konvensional. Rasanya tidak akan lama lagi usaha tersebut akan bertahan bertahan. Bukan menyepelakan atau merendahkan, namun kenyataan dunia ini akan bergeser kepada teknologi. Apa-apa online. Kecuali, konvensional bisa diimbangi dengan teknologi.

Melihat hal demikian, kita sebagai generasi milenial yang kebetulan tinggal di Indonesia harus berusaha dan bisa menciptakan peluang bisnis yang masih terbuka lebar ini. Jika kita tidak ambil bagian pada momen ini, saya kira akan dijajah oleh negara lain. Tentu dijajah bukan seperti Belanda dahulu, namun ini lebih kepada lini bisnis yang dikuasi oleh negara lain.

Tak usah jauh-jauh, ecommerce-ecommerce yang ada di Indoenesia saja jika kita lihat sudah banyak dari luar negeri. Contohnya adalah Lazada, JD.ID, Blanja dan lainnya. Mirisnya lagi adalah Ketiga ecommerce internasional tersebut masuk dalam 10 besar ecommerce di Indonesia. Miris? Ya memang begitu kenyataannya bung! 

Laporan Khusus:

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.
SHARE