Bebas berpendapat di media sosial, bukan berarti kita bebas ngomong apa saja tanpa tedeng aling-aling.

Setara.net – Belakangan ini beberapa netizen di Indonesia ramai dan dihebohkan mengenai beberapa orang pengguna sosial media yang dicokol oleh Polisi. Pasalnya mereka membuat atau menyebarkan berita hoax. Yang paling baru adalah pemuda berusia 23 tahun, di balik akun instagram Muslim_cyber1. Ia dicokol Polisi karena menyebarkan chat palsu antara Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Kabidhumas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono.

“Pada Selasa, 23 Mei, Dit Cyber Bareskrim menangkap lelaki berinisial HP, admin akun muslim_cyber1. Akun ini rutin mengunggah gambar-gambar atau kalimat yang menebar kebencian atau bernuansa SARA,” ujar Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta, Minggu, 28 Mei 2017. Seperti dikutip dari Tempo.

Melihat hal demikian, kita sebagai pengguna sosial media harus berhati-hati. Bukan berarti membatasi kebebasan berpendapat. Namun, ketika membuat sebuah status di akun sosial media, dan menyinggung pihak lain dan membikin berita bohong, maka harus berani bertanggungjawab.

Bebas berpendapat di media sosial, bukan berarti kita bebas ngomong apa saja tanpa tedeng aling-aling. Hidup di era digital seperti saat ini, yang apa-apa serba cepat kita harus memilah dalam membuat status di media sosial maupun menyebarkannya.

Sosial Media menjadi acuan perusahaan

Data yang dihimpun dari Yougov.com menjelaskan bahwa perusahaan dalam mencari karyawan baru atau memberhentikan, salah satu faktornya dari akun sosial media. Maka selayak dan sebaiknya akun sosial media Anda digunakan untuk memposting hal-hal yang positif. Kita sebagai pengguna media sosial misalnya Facebook, sudah bosan dengan berita-berita hoax yang tersebar setiap harinya.

Dipecat karena Sosial Media

Yougov.com telah membuat riset bahwa banyak karyawan dipecat dari tempat kerjanya hanya dari faktor akun sosial media. Apa saja sih jenis postingan yang menyebabkan karyawan dipecat oleh perusahaan? Sebanyak 75 persen dipecat karena di akun sosial medianya banyak memakai bahasa kasar atau agresif. Selanjutnya referensi penggunaan narkotika sebesar 71 persen. Lalu pola berbahasa yang buruk sebanyak 56 persen. Bahkan pandangan politik sangat mempengaruhi, ia sebesar 27 persen.

Dipecat Akibat Media Sosial
Dipecat Akibat Media Sosial | Setara.net

Jadi, jika Anda masih merengek dan bekerja di perusahaan, maka jangan sekali-sekali membuat status yang bernada negatif seperti di atas. Karena jejak digital itu abadi. Walaupun telah dihapus, tetap saja masih ada celah mencarinya.

Buat pelamar kerja

Yang harus dimiliki oleh pelamar kerja selain skill dan pengalaman, ternyata akun sosial media juga sangat berpengaruh. Banyak perusahaan yang tidak menerima pelamar dikarenakan berbeda pandangan politik dengan bossnya atau lain sebagainya. Sebagai pelamar harus tahu sosial media adalah referensi untuk melihat perilaku seseorang. Jadi jangan heran jika lamaran kerja Anda ditolak dan tak ada kabar. Mungkin selain memang skill yang tak mumpuni, sebab lain adalah akun sosial media anda buruk sekali.

Menggunakan sosial media hendaknya di bawa ke arah positif. Dengan adanya sosial media, kita lebih mudah berinteraksi dengan orang lain. Tak mengenal tempat dan waktu. Namun yang perlu diwaspadai adalah, berpikirlah sedikit lebih cerdas agar di kemudian hari, saat Anda sedang melamar ataupun sudah kerja tidak diberhentikan hanya karena status di sosial media.

Laporan Khusus:

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.
SHARE