Setara.net – Perusahaan ojek berbasis online beberapa tahun terakhir ini sangat banyak di Jakarta. Entah hanya ikut-ikutan karena sedang booming atau memang niat membuat perusahaan rintisan.

Ojek online di Jakarta dan sekitarnya sudah menjadi kehidupan sehari-hari bagi warganya. Banyak sekali aktivitas yang menggunakan ojek berbasis online. Tak hanya jasa mengantar saja, namun hampir semua segi kehidupan telah disediakan oleh layanan ojek online.

Dari membeli makanan, membersihkan rumah, membeli obat-obatan, mengantar barang dan masih banyak lainnya tersedia pada perusahaan ojek berbasis online ini.

Dengan banyaknya startup ojek online di Jakarta, maka para konsumen akan lebih mudah menggunakan jasa mereka. Yang pasti, konsumen akan memilih kriteria startup yang memberikan fasilitas yang lebih unggul daripada yang lainnya. Misalnya pelayanannya cepat, ramah, gampang diakses, harga murah dan sederet keuntungan yang didapatkan oleh konsumen.

Lahirnya Startup ojek online

Dengan diawali oleh munculnya Go-Jek, maka yang lainnya terus lahir dan bermunculan. Ada Grabbike, Uber, LadyJak, Blujek, Top Jak, Tekno Jak dan entah apalagi namanya. Yang pasti mereka siap bersaing antara satu sama lain.

Persaingan antar ojek online

Dengan banyaknya ojek online, maka persaingan dipastikan akan seru. Banting harga dan promosi digencarkan oleh mereka. Namun apakah ini akan terus dilakukan, walaupun keadaan keuangan perusahaan terus tergerus oleh promosi besar-besaran?

Jawabannya adalah harus! Karena jika tidak melakukan promosi terus menerus, maka akan ditinggalkan oleh konsumen. Hal ini tengah terjadi di berbagai perusahan ojek online. Yang, bisa dikatakan baru seumur jagung dan terkapar serta tak beroperasi lagi.

Mati sebelum berkembang

Diantara banyaknya ojek online, beberapa saja yang bisa bertahan di kejamnya jalanan Jakarta. Pada tahap ini, seperti hukum rimba. Siapa yang berkuasa dan memiliki dana yang lebih banyak maka perusahaan tersebut akan bertahan.

Banyak yang tumbang dalam bisnis ini, misalnya Blu-Jek, TopJak, LadyJak dan beberapa lagi akan menyusul mereka. Jikalau tidak mendapatkan suntikan dana segar yang banyak perusahaan akan menghitur hari kegagalannya.

Dengan bak hukum rimba ini, perusahaan harus mencari dana segar agar perusahaannya bisa terus beroperasi. Belum lama ini, Go-Jek telah menerima suntikan dana dari perusahaan luar negeri.

“Penyedia solusi transportasi online, Gojek, dikabarkan mendapatkan suntikan dana lagi. Besarannya tidak tanggung-tanggung, sekitar US$550 juta atau setara dengan Rp7 triliun” Seperti dkutip dari viva.co.id. Salah satu perusahaan yang memberi dana adalah KKR & Co. dan Warburg Pincus LLC.

3 Raksasa Ojek Online

Otomatis dengan memberikan promo besar-besaran terhadap konsumen, maka perusahaan akan bisa bertahan. Tentu harus terus mencari suntikan dana. Saat ini, raja ojek online di Indonesia dipegang oleh 3 perusahaan. Gojek, Uber dan Grab.

Dari ketiga perusahaan tersebut hingga sekarang masih saling adu promo. Ketiganya saya kira belum mendapatkan keuntungan. Alih-alih berpikir mendapatkan profit, mengembalikan modal saja belum bisa.

Jika di waktu mendatang dari ketiga perusahaan ada yang bergabung, maka dipastikan transportasi penyedia jasa online ini akan dirajai oleh satu perusahaan. Misalnya Grab bergabung dengan Uber atau sebaliknya. Bisa diperkirakan Go-Jek akan tumbang. Namun, belum tentu segampang itu hitung-hitungannya. Kompleks.

Hukum rimba tak selalu di hutan saja. Bisnis ojek berbasis online juga sepertinya menerapkan hal ini. Kita tunggu saja, siapa yang bertahan dan menjadi raja di panasnya jalanan Jakarta.

Laporan Khusus : 
1. Go-Jek Lahir dan Berkembang Menjadi Contoh Startup di Indonesia
2. Persaingan Ojek Online di Indonesia Semakin Ketat
3. Blu-Jek, Tumbang Sebelum Berkembang
4. Digilas Oleh Persaingan Sengit bak Hukum Rimba
5. Mereka yang Menghabiskan Waktu di Jalan

Robit Mikrojul Huda

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.
Robit Mikrojul Huda
SHARE