Setara.net – Perkembangan dan kemajuan teknologi membuat manusia menjadi lebih mudah dalam melakukan aktivitas. Teknologi telah merubah hidup banyak orang di dunia. Tak terkecuali orang Indonesia.

Di Jakarta, beberapa tahun terakhir ini banyak sekali perusahaan-perusahaan rintisan yang berdiri. Khususnya dua tahun terakhir ini, startup di Indonesia dan Jakarta menjamur. Dua tahun belakangan ini, fenomena startup sudah menjadi buah bibir di publik.

Dalam ranah ojek, dimulai oleh startup yang bernama Go-Jek. Go-Jek adalah sebuah startup yang mengklaim bahwa perusahaan rintisan tersebut asli hasil karya anak bangsa. Tak menunggu lama, momentum ojek berbasis online telah merebak seantero Jakarta. Ladang yang menggiurkan ini akhirnya banyak diminati oleh pengusaha dan anak-anak muda yang mau bikin startup.

Lahirnya Ojek Berbasis Online

Dengan animo masyarakat Jakarta yang positif. Kemudian startup yang berjenis sama muncul. Ada Grabbike, Ladyjak, dan Blu-Jek. Nama terakhir adalah startup yang mirip layaknya Go-Jek. Namun, pihak manajemen Blu-Jek menolak bahwa mereka telah membebek Go-Jek. Tapi itu tak jadi masalah, karena suatu hal yang sedang hits dan booming, tak akan lama banyak yang akan meniru.

Persaingan dan promosi antar ojek online

Dengan banyaknya ojek berbasis online, membuat para pengguna menjadi semakin mudah. Pada awal-awal berdirinya ojek online, pengguna diberi tumpangan dengan harga yang murah dan bahkan tak dikenakan biaya sepeserpun. Di awal, para pengguna ojek online tak bisa loyal hanya pada satu startup saja. Karena pengguna memanfaatkan promo besar-besaran di setiap ojek online.

Misalkan, Go-Jek memberikan diskon 50% kepada penggunanya. Kemudian, Grabbike tak mau kalah dengan memberikan diskon yang lebih besar. Begitupula dengan Blu-Jek. Ia tak mau menjadi penonton saja, namun ia memberikan diskon yang sama atau bahkan lebih dari pesaingnya.

Lahir, tumbuh dan mati tak tersisa

Dengan ketatnya persaingan ojek online. Membuat pemain ojek online harus memutar otak untuk “menalangi dana” kepada driver dan penggunanya. Itu membutuhkan dana tak sedikit. Karena dengan promosi yang besar dan terus menerus, dan belum mendapatkan profit, maka perusahaan harus mencari investor. Dalam dunia startup adalah hal umum suntikan dana harus mereka dapatkan ketika memulai mendirikan startup.

Go-Jek dan Grabbike, yang telah memulai di awal telah berhasil mengatasi “biaya promosi”. Namun, kiranya di Blu-Jek tak sanggup untuk terus bersaing dan memberikan promo. Semakin lama mereka bersaing dan gencar meberikan promo, maka pengguna selain diuntungkan dengan potongan harga, pengguna juga senang dibuatnya.

Saat ini, jika Anda melihat atau menegecek ke website resminya Blu-Jek di blu-jek.com. Maka yang akan Anda dapatkan adalah pemberitahuan bahwa website tersebut sedang ada maintenance. Artinya bisa dikatakan startup tersebut sedang tiarap, entah sejenak atau selamanya.

Blu-Jek tidak mengikuti kedua raksasa ojek online saingannya. Blu-Jek, dengan berat hati saya katakan tumbang sebelum berkembang.

Laopran Khusus :

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.

Latest posts by Robit Mikrojul Huda (see all)

SHARE