Banyaknya media online yang membuat judul berita dengan metode “clickbait” membuat masyarakat banyak yang tertipu. Parahnya lagi adalah, media-media mainstream di Indonesia sudah menerapkan judul berita yang seperti itu.

Setara.net – Menurut survei perilakua pengguna internet di Indonesia pada tahun 2016 oleh APJII, alasan utama masyarakat Indonesia mengakses internet adalah untuk update informasi. Dengan jutaan informasi yang bertebaran di dunia maya, membuat kita lebih banyak memilih internet dibandingkan dengan media lainnya. Perkembangan internet sangat cepat sekali. Hari ini adalah era internet.

Maka tidak salah jika masyarakat kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk internetan. Sayangnya penyebaran internet dan berita online akhir-akhir ini banyak yang palsu atau berita bohong. Berita hoax terus disebarkan oleh mereka yang tak bertanggungjawab. Dan parahnya lagi adalah penyebarannya sangat cepat, bak virus mematikan.

Berita bohong yang terus diproduksi

Berita hoax terus diproduksi setiap harinya. Mereka para pembuat berita hoax tidak memikirkan dampak ke belakang. Yang terpenting bagi mereka adalah uang terus mengalir. Mereka tidak memikirkan dampak yang ditimbulkan atas berita yang dibuat. Mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan segepok uang.

Semakin banyak yang klik dan share, semakin banyak pula uang yang mereka keruk. Dengan judul yang mengundang pembaca, dan judul dipelintir sedikit membuat berita laris dibaca jutaan orang.

Mudah dan murahnya harga smartphone membuat hal ini menjadi salah satu penyumbang terbesar penyebaran berita palsu. Anak-anak usia belasan di perkotaan hampir semuanya memiliki smartphone. Hal ini sangat-sangat menjadi kekhawatiran serta pengawasan ekstra dari orangtua.

Maraknya Berita bohong

Berita hoax menjelang dan sesudah Pilpres 2014 semakin banyak. Kebanyakan berita hoax adalah mengenai politik. Melihat hal demikian, masyarakat harus lebih hati-hati dalam membaca berita online. Apalagi dari website-website yang tidak bertanggung jawab dan tak jelas siapa dan alamat redaksinya.

Jika dihitung, maka dalam sehari berita palsu di Indonesia jumlahnya bisa dikatakan sangat banyak. Entah di angka berapa.

Mudahnya mendapat dan menyebar berita

Berdasarkan hasil riset dari Dailysocial.id, masyarakat kita paling banyak mendapatkan berita online dari Facebook. Lebih dari 70 persen responden menyatakan memperoleh sumber berita online dari Facebook. Selanjutnya aplikasi chatting Line, yang memiliki kanal Line Today menjadi sumber bacaan berita online sebanyak 50 persen. Platform ini menjadi populer karena pengguna Line di Indonesia sangat banyak pun rata-rata digunakan oleh remaja.

Persentase Sumber Akses Berita Online di Indonesia
Persentase Sumber Akses Berita Online di Indonesia | Setara.net

Mudahnya membuat akun sosial media

Ketika banyak orang yang membuat akun media sosial palsu membuat berita bohong akan terus subur. Mereka menyebarkan berita-berita bohong lewat akun-akun palsu. Jangan kaget jika satu orang memiliki beberapa akun Facebook. Dan akun-akun tersebut seakan nyata. Tak hanya Facebook juga yang dipakai, namun akun-akun Twitter juga digunakan untuk menyebar berita tak benar.

Melawan Berita Bohong

Saat mendapatkan informasi dari berita online, alangkah lebih baiknya kita tidak buru-buru menyebarkan. Baca isinya hingga usai. Jangan lihat dari judul saja, lalu sudah menyimpulkan.

Banyaknya media online yang membuat judul berita dengan metode “clickbait” membuat masyarakat banyak yang tertipu. Parahnya lagi adalah, media-media mainstream di Indonesia sudah menerapkan judul berita yang seperti itu. Clickbait adalah membuat judul yang terlalu dibesar-besarkan.

Dengan awal kalimat “wah”, “subhanallah”, “astagfirullah” “wow” dan lain semacamnya membuat kita ingin langsung membaca. Nyatanya para pembaca banyak yang tertipu dengan isi berita. Walaupun tak semuanya berita yang menggunakan judul “clickbait” itu bohong.

Peran Pemerintah

Masyarakat Indonesia (masih) mudah diperanguhi oleh berita bohong. Dengan adanya peran pemerintah, dalam hal ini mengedukasi kepada masyarakat, sosialisasi tentang internet, dan terus mengawasi media, akan bisa mengurangi berita palsu. Peran pemerintah sangat dibutuhkan.

Pada tahun 206 lalu, pemerintah lewat Kemkominfo memblokir situs-situs yang dianggap membahayakan. Namun, apakah setelah adanya pemblokiran itu selesai? Jawabannya adalah tidak. Karena dengan hanya pemblokiran, maka mereka-mereka yang terkena blokir justru lebih radikal dibandingkan dengan sebelumnya. Blokir bukan solusi. Dan langkah ini yang masih digunakan oleh pemerintah sampai sekarang.

Laporan Khusus:

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.

Latest posts by Robit Mikrojul Huda (see all)

SHARE