Dangdut is the music of my country, my country, of my country
Dangdut is the music of my country, my country, of my country
Aaaaa, oh my country

Setara.net – Petikan lirik di atas adalah lagu yang dipopulerkan oleh Project Pop tahun 2003. Lagu yang berjudul “Dangdut Is The Music Of My Country” itu seketika menjadi penanda bahwa musik dangdut tak melulu dinikmati oleh kalangan tertentu. Namun, ia lebih dari itu.

Rasanya hampir semua masyarakat Indonesia tahu mengenai musik yang satu ini. Dangdut merajalela bak virus yang tak bisa dihentikan. Alih-alih musik dangdut hanya ada dalam hajatan atau pesta kawinan. Dangdut menjadi teman bagi semua orang.

Tengok saja di pangkalan ojek di kota-kotamu, pasti mereka sering mendengarkan lagu dangdut. Belum lagi para supir angkot ataupun metromini yang sedang menunggu para penumpangnya, disitu hampir pasti terdengar lagu-lagu dangdut.

Masih belum cukup? Cobalah sekali-sekali anda melakukan perjalanan darat dengan menggunakan bus antar kota. Pastilah disitu akan ada lagu dangdut diputar oleh sopir atau kenek. Belum lagi para sopir truk jalur pantura, tak asing lagi dengan musik dangdut.

Saya kira ini belum cukup. Coba tengok di playlist handpone kalian, apakah ada daftar lagu-lagu dangdut atau tidak. Suka tidak suka, musik dangdut memang sudah menjadi bagian hidup dari orang Indonesia.

Terlepas dari itu semua, banyak yang mencemooh mengenai musik ini. Banyak yang berkata bahwa dangdut adalah kampungan. Dangdut adalah musiknya para orang tua. Dangdut adalah musik jadul. Dangdut adalah blablala… Semua hal-hal negatif ditujukan kepada dangdut.

Musik dangdut dengan khasnya kendang dan seruling membuat pendengarnya bergoyang. Hal ini ditambah lagi musik dangdut belakangan, sudah dimodifikasi dengan dangdut berjenis koplo. Semakin mendunialah musik ini.

Di Indonesia musik jenis apa coba yang tidak bisa dijadikan versi “dangdut koplo”? Semua bisa. Dari jenis rock, punk, jazz, apalagi pop, semua dimodifikasi ke dangdut koplo.

Kreatifitas musisi dan seniman dangdut memiliki insting yang kuat dan bernas. Lihat saja, lagu-lagu di Indonesia maupun dunia yang sedang hits, maka dnegan hitungan hari pasti sudah ada versi koplonya.

Tak percaya? Coba cari di youtube lagu-lagu barat kesukaan kalian, dan tentu keyword belakangnya ditambah dengan kata “koplo”. Pastilah kalian akan mendapatkan daftar panjang lagu yang dicari dengan versi koplo.

Seperti dikutip dari Katadata Indonesia, “Dalam survei Nielsen Radio Audience Measurement (RAM) yang dilakukan pada kuartal ketiga 2016 menunjukkan bahwa alunan musik dangdut diminati pendengar radio dari lintas generasi. Generasi X atau sering disebut Gen X merupakan pendengar lagu dangdut tertinggi, yakni mencapai 41 persen dan diikuti Generasi Baby Boombers. Generasi Z yang lahir di era juga mendengarkan musik dangdut di radio melalui gadgetnya”

survey pendengar musik dangdut
survey pendengar musik dangdut

Survey tersebut dilakukan oleh RAM terhadap 8.400 pendengar radio dari usia 10 tahun ke atas. Survey ini dilakukan di 11 kota di Indonesia. Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin.

Melihat data di atas bisa dikatakan, musik dangdut dan yang berbau dengan dangdut adalah kampungan. Namun, nyatanya banyak sekali masyarakat Indonesia yang mendengarkan dangdut.

Belum lagi, kontes-kontes dangdut di televisi nasional yang hampir setiap hari dikonsumsi oleh masyarakat. Membuat musik dangdut terus berkibar di kancah musik nasional bahkan Asia.

Jadi, masih menganggap dandut itu kampungan? Yakin? Goyang lagi neng!!!

Robit Mikrojul Huda

Belajar rajin nulis di Setara.net. Penikmat kopi hitam dan sedang belajar digital marketing.
SHARE