Menurut Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Asean, Indonesia sudah ketinggalan oleh 4 negara untuk jumlah entrepreneurship.

Setara.net – Setelah seorang anak lulus dari pendidikannya, ada berbagai pilihan hidup yang mesti dipilih untuk kelanjutan hidupnya entah itu ingin menjadi seorang karyawan di suatu perusahaan, menjadi pengusaha, atau mungkin ada yang langsung ingin menikah, dan yang lebih lengkapnya merangkul semua itu menjadi seorang karyawan sekaligus seorang pengusaha yang sudah berkeluarga. Bagaimanapun juga itu semua tidak lepas dari peranan orang tua dalam memberikan masukan dan nasehat kepada anaknya, karena setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.

Sejauh ini mayoritas orang tua di Indonesia lebih mendukung agar anaknya menjadi seorang karyawan di suatu perusahaan, dan pastinya didasarkan karena alasan-alasan tertentu. Apakah itu alasan-alasannya? Yuk cuss mari kita bahas satu persatu.

Menjadi seorang karyawan lebih aman dalam hal pendapatan setiap bulannya

Yupss menjadi seorang karyawan lebih aman dalam hal pendapatan setiap bulannya belum lagi adanya tunjangan-tunjangan lainnya yang dimasukkan ke dalam gaji bulanan ataupun seperti halnya akan mendapatkan bonus tahunan dan bahkan adanya tunjangan hari tua untuk para karyawannya tentu saja ini semua menjadi sangat menggiurkan.

Takut Anaknya mengalami kebangkrutan jika menjadi seorang pengusaha

Tentu saja seorang karyawan pada suatu perusahaan tidak akan mengalami kebangkrutan selama perusahaan tempatnya bekerja masih pada zona aman apalagi jika perusahaannya tersebut termasuk ke dalam perusahaan terbuka yang memang bonafit. Berbeda jika menjadi seorang pengusaha yang mungkin akan dihadapi dengan kegagalan dan kebangkrutan jika terdapat ketidaksinambungan pada usahanya.

Ada kebanggaan tersendiri jika anaknya berhasil menjadi seorang karyawan di perusahaan bonafit

Yupss! Orangtua mana yang tidak bangga melihat anaknya menjadi seorang karyawan pada salah satu perusahaan yang bonafit. Dapat menaklukkan berbagai test yang dilaluinya untuk menjadi karyawan pada perusahaan bonafit tersebut, apalagi jika perusahaan tersebut memberikan banyak tunjangan hidup kepada para karyawannya.

Tidak ingin anaknya susah seperti dirinya

Terkadang orang tua yang memang menjadi seorang yang berprofesi sebagai wirausahawan beranggapan bahwa menjadi karyawan di suatu perusahaan lebih baik dan tidak susah seperti dirinya pada saat berwirausaha. Sehingga ia menghindari anaknya untuk menjadi seorang wirausahawan seperti dirinya, ia tidak ingin melihat anaknya susah seperti dirinya.

Ingin Anaknya mempunyai status pekerjaan yang jelas dan pasti

Jika sang anak menjadi karyawan pada suatu Perusahaan sudah pasti kejelasan status pekerjaan anaknya tersebut dan sudah pasti mendapatkan gaji perbulannya tepat waktu serta jam kerja yang memang sudah jelas. Sehingga sang orang tua tidak perlu khawatir dengan status anaknya tersebut..

Karena Doktrin masa lalu

Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun lamanya, pemerintah Belanda jaman dahulu selalu menerapkan politik Devide Et Impera (Politik pecah belah atau politik adu domba) merupakan kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaaan dengan cara memecah belah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang mudah ditaklukkan.

Persentase pengusaha di Asean
Persentase pengusaha di Asean

Belanda tidak menyukai orang maju pada saat itu. Dan akhirnya yang menjadi korban adalah rakyat Indonesia, karena dipecah belah oleh Belanda maka rakyat Indonesia semuanya bekerja untuk Belanda. Yang menjadi pengusaha jumlanya sangat kecil. Dan itu mengakibatkan didikan tersebut masih melekat pada orang tua kita, kakek kita, leluhur kita hingga turun menurun pada generasi berikutnya. Itulah sebab dasar mengapa orang tua kita lebih suka jika kita menjadi seorang karyawan.

Menurut Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Asean, Indonesia sudah ketinggalan oleh 4 negara untuk jumlah entrepreneurship, berikut presentase jumlah entrepreneurship dari seluruh jumlah penduduk pada negara tersebut, yaitu untuk Singapura 7%, Malaysia 5%, Thailand 4,5%, Vietnam 3,6%, sedangkan Indonesia 1,56% saja per 2016.

Memang menjadi seorang pengusaha hanya golongan minoritas yang sukses namun banyak sekali keuntungan yang didapat dari segi waktu maupun finansial. Jika teman-teman mengetahui kunci menjadi seorang pengusaha yang sukses melalui edukasi langsung dari seorang pengusaha, serta mempunyai seorang mentor. Jangan takut gagal, tidak mudah menyerah, selalu ingin bangkit dan belajar, serta selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi bagaimana dengan teman-teman yang baru lulus ingin menjadi seorang karyawan, pengusaha, atau bahkan menjadi seorang karyawan sekaligus mempunyai usaha? Semoga yang menjadi pilihan teman-teman merupakan pilihan yang terbaik yaa.. Aamiin..

Laporan Khusus :

  1. Muda, Beda dan Kaya Raya, Inilah 6 Pemuda Terkaya di Dunia
  2. Berapa Besar Pendapatan Setiap Bulan Karyawan di Indonesia?
  3. Perusahaan Startup Paling Nyaman Untuk Bekerja di Indonesia
Rodhiyatum Mardhiyah

Rodhiyatum Mardhiyah

Hanya seorang pembelajar kehidupan yang ingin tetap hidup dengan menulis
Rodhiyatum Mardhiyah

Latest posts by Rodhiyatum Mardhiyah (see all)

SHARE