Setara.net –  Dalam dunia pemilihan pemimpin seorang warga pasti memiliki alasan tersendiri kenapa ia memilih si A, si B dan si C. Alasannya pun beragam, ada yang karena se-daerah, se-visi, se-agama, ataupun yang lain.

Namun di luar itu ada juga warga yang rada ‘nakal’, alias ia tidak mau memilih salah satu calon jika tidak ada uangnya. Atau dalam makna lain, warga seperti itu hanya akan memilih calon yang paling banyak sumbangan uangnya, selebihnya itu tidak akan dipilih.

Hal-hal seperti inilah yang seharusnya dihilangkan. Kenapa demikian? Justru dengan adanya kesadaran materialis akan membuka potensi korupsi semakin besar. Dimana para calon harus lebih dulu menguras uang untuk menyogok para warga dan kemudian jika sudah jadi baru uang rakyat yang akan dipangkas.

Nah disinilah pentingnya pendidikan politik dan kewarganegaraan sejak dini. Fungsi utamanya ialah membangun kesadaran diri atas menjaga kesatuan dan ketentraman negara. Artinya penentu terjaganya ketentraman dan keutuhan bukanlah milik negara semata, tapi seluruh warga negara.

Salah satu pendidikan itu ialah menanamkan kriteria dalam memilih seorang pemimpin. Sudah saatnya menghapus alasan memilih karena uang, memilih karena sedaerah atau karena segolongan, tapi warga sudah harus memilih karena visi dan misi-nya. Karena melaui visi dan misi itulah kelak daerah akan dibangun.

Berikut kireteria standar dalam memilih seorang pemimpin.

Berpengalaman

Hampir setiap lembaga atau perusahaan apalagi negara pasti memasukkan kiteria ‘pengalaman’ atau track record dalam memilih seorang pemimpin. Tidak bisa dipungkiri memang, seseorang yang berpengalaman jauh akan lebih paham soal medan.

Selain itu tak jarang pula ditemukan antara teori dengan pengalaman bisa berbeda, karenanya teori yang sudah dipelajari untuk melengkapi pengalaman, bukan pengalaman yang menyesuaikan teori. So, seberapa lama pengalaman tentu akan menentukan kualitas kepemimpinan calon.

Mampu Mendengarkan

Yang namanya pemimpin haruslah mampu mendengarkan aspirasi rakyatnya, terlebih jika sistem kenegaraannya demokrasi, tentu setiap suara yang disampaikan harus dihargai. Jika sebaliknya, seorang pemimpin yang tak mau mendengarkan suara rakyat dan hanya menuruti kepentingannya sendiri, bisa dikatakan pemimpin semacam itu tidak lain adalah pemimpin otoriter.

Seorang pemimpin yang mampu mendengarkan ialah mereka yang selalu menggunakan hati, bukan amarah, ialah mereka yang sedikit bicara dan banyak mendengarkan. Ketika menerima masukan pun tidak membeda-bedakan, selagi baik buat rakyat pasti akan dijalankan.

Karena itu kriteria yang tidak boleh ditinggalkan ialah pemimpin yang mampu mendengarkan aspirasi rakyatnya, bukan malah otoriter dan mengabaikan suara rakyat. Sebab hakikatnya pemimpin daerah ialah pelayan masyarakat.

Visi dan Misi

Inilah yang terpenting, seorang warga yang cerdas adalah mereka yang memahami dengan baik visi misi para calon pemimpinnya. Karena dengan mengenal dan memahami visi misi para calon, warga akan tahu kemana arah kepemimpinannya.

Dalam hal ini perlu dikritisi juga, ada visi misi yang cenderung tidak masuk akal dan ada visi misi yang jelas pro masyarakat. Dari sinilah kejelian masyarakat diuji, dimana masyarakat tidak mudah diiming-imingi dengan visi misi yang menggiurkan, seperti bantuan tunai dengan jumlah yang besar atau semisalnya.

So, itulah 3 kireteria paling umum dalam memilih seorang pemimpin. Jika ketiganya ada pada diri calon pemimpin, maka tidak ada alasan lagi kenapa kita tidak memilihnya. Pemimpin yang berpengalaman akan lebih paham dalam menyelesaikan masalah, pemimpin yang mau mendengarkan akan selalu mengutamakan kepentingan masyarakat dan pemimpin yang memiliki visi dan misi memajukan akan membawa masyakaratnya lebih sejahtera.

Mas Halfi

Hanya seorang blogger yang terkagum-kagum dengan hermeneutika.

Latest posts by Mas Halfi (see all)